'Harapan Kita' tidak Seperti yang Diharapkan

PEKAN lalu saya mengalami kejadian yang mengesalkan di Pusat Jantung Harapan Kita. Rumah sakit yang misinya sebagaimana tertera pada spanduk di pintu depan, menjadi RS dengan standar internasional, nyatanya jauh dari harapan.

Saat itu, pasien yang juga kerabat saya ditangani di ICU atau CVC. Mengingat, penyakit jantung yang dideritanya tergolong kritis. Selama di sana, tak ada sesuatu yang membuat kami kecewa atau kurang puas. Sampai suatu ketika, seorang perawat di kamar ICU lantai dua menunjukkan sikap arogan, tidak  sopan, dan tidak profesional. 

Mulanya kita sama-sama memahami bahwa ruang ICU merupakan area steril dari pengunjung. Kecuali pada jam-jam besuk yang sudah ditentukan. Namun, beberapa kali, saya menyaksikan sejumlah orang (pengunjung) keluar masuk melalui pintu belakang. Mereka kelihatan 'bebas' dan leluasa. Di mana aturan bahwa ICU merupakan area steril? Lalu saya mencoba melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan sebagian pengunjung yang bebas tadi.  

Namun saat saya mendekati kerabat saya yang terkulai lemah, seorang perawat menghardik dan mengusir saya pergi. Padahal di samping saya persis, sekitar enam orang  tengah mengerumuni pasien lain dan dibiarkan. Mengapa ada diskriminasi seperti ini?

Jika memang ICU daerah steril, mengapa ada orang-orang yang bebas, sedangkan saya tidak mendapat fasilitas yang sama? Sebagian pengunjung membisikkan ke saya bahwa orang-orang bebas itu adalah orang kuat, sehingga perawat tak bisa bersikap tegas. Ah saya tidak percaya, karena Harapan Kita ingin menuju kelas dunia. Tapi kejadian ganjil yang berlangsung hampir seminggu di depan mata saya sulit untuk tidak dicurigai.

Selain itu, perawat di ruang ICU juga kurang responsif terhadap kepentingan dan hak-hak keluarga pasien. Saat kami mencoba menanyakan status terakhir dari kerabat kami yang dirawat, perawat dengan ketus mengatakan bahwa dokter sedang tidur waktu itu pukul 23.00 WIB. Okelah, itu memang waktu yang pas untuk tidur.

Tapi, jika dokter jaga (malam) tidak bisa diganggu, hanya karena ingin tidur, di mana kita memercayai profesionalitasnya? Sebagai dokter, sudah menjadi konsekuensi jika harus menangani pasien jam berapa pun. Untunglah dokter jaga tersebut tidak benar-benar sedang  tidur. Ia mendengar pertengkaran kami dengan perawat yang tak tahu diri tersebut. Matanya juga masih menyala, sedangkan rambutnya rapi. Itu menandakan bahwa dokter tersebut tidak sedang habis tidur. 

Ah perawat, apa maksudmu berbohong seperti itu? Jangan sampai kejadian seperti itu menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap Harapan Kita. Bagaimana mungkin mengejar standar internasional jika mendidik perawat berkelas nasional saja belum mampu?

Alina Hikmah, Jl. Buncit Raya No 87 RT 06/VIII, Mampang Perapatan, Jakarta Selatan (alina_hikmah@yahoo.co.id)  

Postingan populer dari blog ini

Pemerintah Butuh 20.000 Perawat. Pasien Covid Bertambah

1/3 Pasien yang Pulang dari Rumah Sakit Meninggal

Status Perawat Berpengaruh terhadap Keseriusan Bekerja