Si Bungsu Pergi Selamanya Karena Kelalaianku

Kalau suatu saat kesedihan itu seperti "diangkat" oleh Allah, biasanya ini disebabkan oleh kembalinya rutinitas kehidupan, karena tuntutan pekerjaan, maupun keimanan yang makin kuat, sehingga bisa mengubah mindset bahwa suatu saat kematian pasti datang pada setiap orang yang hidup, bahwa di alam sana almarhum masih bisa melihat kita, tersenyum dan menyayangi kita. Pelan-pelan kita kembali pada kondisi emosi yang lebih stabil, makin sibuk bekerja dan menyayangi kakaknya, maka ini berarti sudah sampai di tahap acceptance (penerimaan).

Pertanyaan Dimyati - somewhere,
Saya seorang ibu yang berprofesi sebagai perawat, sedangkan suami berdinas di luar Jawa. Karena itulah saya hanya bisa berkumpul dengan suami dua bulan sekali. Saya mempunyai dua anak perempuan, yang pertama duduk di kelas 1 SMP dan si bungsu 6 tahun, yang baru meninggal 5 bulan yang lalu.

Kalau berbicara mengenai anak saya yang meninggal ini, badan saya langsung terasa lemas, Bu, dan air mata sudah tentu tidak bisa dibendung. Rasanya sudah lelah saya menangis, tetapi ingatan tentang almarhumah selalu datang, disertai duka yang mendalam.  

Rasanya, sampai sekarang rasa bersalah itu masih ada dalam hati saya...

Saya adalah ibu yang bodoh, lalai, tak mampu menjaga anaknya, tak mampu mengenali tanda-tanda bahwa anak mengalami syok sepsis. Padahal kalau dilihat dari pengalaman saya bekerja di rumah sakit yang sudah puluhan tahun lamanya, seharusnya saya lebih peka mengenali tanda-tanda itu. 

Selain bertugas sebagai perawat, saya juga mengajar di Akademi Perawat, dan kebetulan juga mata kuliah yang saya pegang adalah tentang perawatan anak. Sebegitu bodohnya saya, Bu, sampai-sampai terlambat membawa anak saya ke rumah sakit. 

Bulan-bulan pertama sepeninggal si bungsu, saya masih bisa rutin ke makamnya setiap hari. Kemudian, berangsur seminggu sekali, dan ini terus saya lakukan sampai akhir-akhir ini justru saya tidak kuat bila melihat makamnya. Bahkan saat  memasuki kompleks pemakaman, dari jauh saja badan saya sudah lemas. 

Di rumah begitu juga, Bu Rieny. Barang-barangnya, pakaian, buku, mainan yang memang saya pisahkan sebagai kenangan, tak mampu lagi saya lihat. Jangankan memegang, melihat saja saya sudah lunglai seakan tak bertulang.

Kenapa seperti ini yang harus saya rasakan, Bu? Padahal rasa duka dan bersalah ini kata orang akan hilang seiring waktu. Tetapi bagi saya, ingatan akan anak saya makin lama malah makin lekat. Makin hari saya makin sedih. 

Anak saya ini lucu, cantik, matanya bulat dan indah. Ketika meninggal, baru saja ia lulus dari TK. Saya dan suami berharap banyak untuk masa depan si bungsu karena anak ini tampak cerdas, rasa ingin tahunya besar, dan selalu ingin aktif mengikuti kegiatan-kegiatan di TK nya. Anak kebanggaan, Bu. Tapi ternyata Allah berkehendak lain.  

Saya minta saran ya, Bu, bagaimana saya bisa lebih tegar, bisa mengembalikan kondisi fisik yang saat ini lunglai tak bertulang. Karena tiap malam saya juga masih susah tidur. Sampai kapan ini bisa hilang dan hidup saya kembali normal seperti saat anak saya masih hidup? Terima kasih atas perhatian Ibu. 

Jawaban DRA Rieny Hasan,
Saya turut berduka atas kehilangan puteri bungsu Anda yang cantik dan cerdas, itu, Bu Dimyati. Agak susah saya  memilih kata-kata agar saya tidak terkesan sok mau coba-coba menjadi ustazah. Tetapi, bagaimana, ya, Bu Dimyati, urusan kematian, kan, memang sangat lekat dengan berlakunya kehendak Allah untuk memanggil hambaNya kembali ke sisi-Nya. Jadi, mohon maaf kalau saya tetap saja menyerempet-nyerempet hal ini. 

Dalam hidupnya, seseorang yang mengalami kehilangan orang yang dicintai, ditenggarai mengalami stres pada tingkat yang tertinggi. Ditinggal meninggal oleh orang yang kita cintai, pasangan hidup atau anak, lalu disebut sebagai stressor yang berat. Menyusul yang berikutnya adalah kehilangan pekerjaan, pindah rumah atau pekerjaan, lalu penyakit kronis dan beberapa lagi lainnya, yang kadarnya makin ringan. 

Tidak ada patokan yang baku, Bu, tentang berapa lamanya seseorang bisa dikatakan berada dalam kondisi benar-benar sudah siap melanjutkan hidup, move on, setelah ditinggal orang yang dicintai. tetapi tidak disertai gejala-gejala lemas, sedih yang mendalam seperti apa yang Anda alami saat ini.

Biasanya, orang yang berduka seperti Anda, akan melampaui 5 tahapan, untuk kemudian siap move on. Ketika peristiwa meninggalnya orang yang dicintai terjadi, dalam kesedihan yang amat sangat, ada rasa tidak percaya. Kita menyangkal untuk menerima kenyataan bahwa almarhum memang sudah tiada.  

Teman saya yang anak tunggal, meninggal di usia 50 tahun dan ayahnya berumur 80 tahun. Sampai bertahun-tahun kemudian, setiap akan makan beliau harus dibujuk, karena biasanya beliau akan mengatakan, "Tunggu si X dulu lah, sebentar lagi juga pulang." Bukan pikun, Bu Dimyati, tetapi kalau sudah urusan tentang anak tunggalnya, ia masih terus menyangkal bahwa anaknya sudah berpulang, menyusul istrinya. Rasa-rasanya, sampai cukup lama beliau berada di tahap denial (menyangkal) ini. 

Bila akhirnya kita bisa melihat kenyataan bahwa orang yang kita cintai memang benar meninggal dunia, muncul rasa marah. Kenapa, kok, anak yang cantik, pandai, dan sayang orangtua, diambil? Mengapa penjahat dipanjangkan umur? Atau mengapa suamiku yang sangat mencintai keluarga, kok, mendahului aku? Lalu aku harus membesarkan anak-anak seorang diri? Menangis keras, merasa bersalah karena tidak punya cukup waktu mengurus saat almarhum sakit, juga menunjukkan keberadaan di fase anger (kemarahan) ini.

Fase ini diikuti oleh fase tawar-menawar (bargaining). Kita berandai-andai, biasanya saat bicara pada diri sendiri (self talk) yang dikatakan adalah, "Kalau saja aku lebih peka ya, si Upik pasti masih hidup." "Tuhan, kembalikanlah ibuku, aku janji deh akan jadi anak yang baik", "Beri aku kesempatan kedua untuk jadi ibu yang baik, Tuhan." 

Dan tentu saja, yang pergi tetap pergi, karena itulah keputusan Allah, bukan? Masuklah ke tahap ke empat, yaitu depresi. Ini ditandai oleh perasaan murung, sedih berkepanjangan. Malas makan, malas ketemu orang, ingin berada dekat makamnya, atau karena belum benar-benar meninggalkan tahapan bargaining (yang ketiga), masih saja mengatakan "Coba aku enggak kerja terlalu keras, banyak waktu deh buat Si Kecil." Makin sedih lagi...

Kalau suatu saat kesedihan itu seperti "diangkat" oleh Allah, biasanya ini disebabkan oleh kembalinya rutinitas kehidupan, karena tuntutan pekerjaan, maupun keimanan yang makin kuat, sehingga bisa mengubah mindset bahwa suatu saat kematian pasti datang pada setiap orang yang hidup, bahwa di alam sana, almarhum masih bisa melihat kita, tersenyum dan menyayangi kita. Pelan-pelan kita kembali pada kondisi emosi yang lebih stabil, makin sibuk bekerja dan menyayangi kakaknya, maka ini berarti sudah sampai di tahap acceptance (penerimaan). 

Rentang antara fase penyangkalan ke fase penerimaan bisa sangat bervariasi dari satu orang ke orang lainnya. Ada yang menyangkut lama di denial, ada yang depresi berkepanjangan, bahkan ada pula yang tak pernah beranjak dari fase satu, sampai akhirnya ia juga meninggal dunia.

Saya tak hendak menghakimi Anda dengan mengatakan...ayo, Ibu Dimyati ada di fase ini, lo. Tidak Bu. Saya berbagi mengenai tahapan berduka yang sudah dibuat berdasarkan riset ilmiah ini untuk mengajak Ibu bergegas melampaui tahapan-tahapan ini, dan setelah sampai ke fase penerimaan (acceptance).

Cobalah membuat diri Anda berbuat lebih banyak untuk anak-anak yang tak semujur anak-anak Anda. Makanan tambahan seminggu sekali untuk daerah padat dan miskin misalnya. Edukasi hidup sehat untuk para ibu, misalnya. Yang penting, berbuatlah!

Sebagai perawat, bagaimana kalau kini Anda tambahkan rasa cinta kepada pasien-pasien yang Anda rawat? Lebih peduli, lebih tulus? Pasti ketulusan Anda akan dirasakan oleh pasien, dan mereka akan membalasnya dengan emosi yang positif pula. hasilnya? Perasaan nyaman akan melingkupi diri saat bekerja. Pula, menjadikan diri kita manfaat untuk banyak orang, akan memberi energi luar biasa untuk mengatasi kesedihan Bu Dimyati. Lakukanlah kebaikan-kebaikan dalam mengisi hari-hari Anda.

Begitu ya bu, hemat saya, tak apa kalau tak sering-sering ke makam. Setiap ingat, kirim doa buat almarhumah. Ngobrol di dalam hati dengannya, sambil menyebut nama Allah di bibir. Lama-lama akan malah terasa Anda yang sedang didoakan anak. 

Tolong lebih mendekat ke Allah, memelihara salat agar Allah juga menjaga hati dan perasaan kita agar selalu yakin, Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. begitu ya, Bu Dimyati. Tulisi saya lagi, kalau ada perkembangan ya? Salam sayang. 


Postingan populer dari blog ini

1/3 Pasien yang Pulang dari Rumah Sakit Meninggal

Pemerintah Butuh 20.000 Perawat. Pasien Covid Bertambah

Perawat Inval