Profesi Kesehatan, Kinerja Perawat Belum Optimal

DEPOK, KOMPAS - Kinerja perawat Indonesia dinilai belum optimal. Hal itu karena perawat masih mengerjakan tugas di luar lingkup praktik keperawatan.Untuk itu, perlu model kerja dan peraturan lebih jelas agar perawat lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan pasien.

Kepala Subdirektorat Bina Pelayanan Keperawatan Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Prayetni memaparkan hal itu, seusai meraih gelar Doktor Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, Senin (27/7), di Depok, Jawa Barat. Ia lulus dengan predikat sangat memuaskan. 

Menurut Prayetni, dalam disertasinya berjudul "Model Penugasan Kerja Perawat dalam Upaya Meningkatkan Produktivitas Perawat di Rumah Sakit", perlu ada model penugasan kerja yang jelas, untuk meningkatkan mutu kompetensi perawat.

Peran perawat dinilai strategis berdasarkan luasnya lingkup praktik keperawatan. "Perawat adalah tenaga kesehatan yang bersentuhan langsung dengan pemenuhan kebutuhan pasien serta keluarga pasien," ucapnya.

Namun, peran strategis perawat itu tak dibarengi dengan standardisasi layanan keperawatan yang jadi alat ukur kinerja perawat. Akibatnya, perawat di beberapa RS mengerjakan tugas atau instruksi medis dan penggunaan alat medis sehingga tak fokus pada fungsinya yakni merespons kebutuhan tiap pasien.

Menurut survei Kemenkes terhadap RS di Indonesia tahun 2014, perawat belum menjalankan fungsinya secara optimal. Sekitar 54 - 74 persen perawat melaksanakan instruksi medis, 26 persen perawat mengerjakan tugas administrasi, dan 20 persen melaksanakan praktik keperawatan belum terkelola dengan baik. Bahkan, 68 persen tugas keperawatan dasar yang seharusnya dikerjakan perawat dilakukan keluarga pasien.

Kompetensi rendah
Ada sejumlah faktor yang membuat perawat masih mengerjakan tugas di luar fungsinya, antara lain ada anggapan perawat adalah golongan kelas dua yang bisa mengerjakan apa pun pekerjaan yang diinstruksikan. Padahal sebagai profesi, keperawatan memiliki tugas dan kewenangan yang tak bisa dicampuri pihak lain.

Faktor lain, kompetensi keperawatan belum dikuasai mendalam, sehingga beberapa perawat tak tahu fungsi dan kewenangannya." Mereka tetap mengerjakan tugas yang bukan lingkupnya," ujarnya.

Atas dasar itu, Prayetni menawarkan model penugasan kerja perawat sesuai lingkup praktik keperawatan yakni tugas perawat dalam  memberi asuhan keperawatan kepada pasien di ruang rawat. Komponen dalam model penugasan keperawatan itu yakni, kebutuhan dan bentuk bantuan kepada pasien, tugas, kompetensi, kewenangan, serta keyakinan perawat dalam melaksanakan tugas dengan baik. "Model ini dibuat agar kinerja perawat dapat lebih terukur,"ujarnya.

Model itu sudah diterapkan di empat RS yang jadi sampel riset, yakni Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Rebo Jakarta, RSUD Budi Asih Jakarta, RSUD Cibabat Bandung, dan RSUD Bekasi. Hasilnya, model penugasan itu meningkatkan kinerja perawat.

Promotor pembimbing disertasi Prayetni, Prof Achir Yani S Hamid, Senin (27/7), berharap model penugasan kinerja perawat itu menjadi kebijakan agar bisa diterapkan di semua RS di Indonesia. Fungsi dan kewenangan profesi keperawatan tertuang dalam Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan, tetapi itu butuh ada aturan turunan agar bisa diterapkan.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia, Harif Fadillah, mengatakan, model penugasan kerja itu dapat memacu kompetensi asuhan keperawatan tiap perawat. Selain itu mutu layanan RS bisa meningkat. (B12)

Postingan populer dari blog ini

1/3 Pasien yang Pulang dari Rumah Sakit Meninggal

Pemerintah Butuh 20.000 Perawat. Pasien Covid Bertambah

Perawat Instrumentalis