KERJA SAMA PENGAWASAN ENERGI NUKLIR UNTUK PENGOBATAN

JAKARTA, KOMPAS - Badan Pengawas Tenaga Nuklir meningkatkan kerja sama dengan Badan Pengawas Tenaga Nuklir Amerika Serikat di bidang keselamatan radiasi. Pengawasan terutama pada penggunaan zat radioaktif di rumah sakit agar efektif dan sesuai dengan standar keselamatan internasional.

Kepala Subbagian Kerja Sama Luar Negeri Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) Petit Wiringgalih mengatakan hal itu, di sela kunjungan tim Badan Pengawas Tenaga Nuklir Amerika Serikat (US NRC) di rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta, Selasa (9/4).

Menurut Petit, pengawasan penggunaan sumber radiasi di rumah sakit tidak hanya penting untuk pasien, tetapi juga bagi pekerja di rumah seperti dokter dan perawat. "Tujuannya agar mereka tak terkena paparan radiasi berlebihan," kata Petit. Paparan zat radioaktif berlebihan dapat berdampak negatif.

Radiasi yang digunakan di bidang kedokteran membantu memberikan informasi tentang fungsi dari organ tertentu dalam tubuh. Dengan metode ini, dokter dapat memperoleh informasi yang cepat dan akurat dalam mendiagnosis kondisi pasien.   

Radiasi juga digunakan untuk mengobati kondisi medis tertentu, seperti kanker, tumor, dan kelainan darah. 

Direktur Perizinan Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif Bapeten Sugeng Sumbarjo mengatakan energi nuklir untuk radioterapi dan radiodiagnostik belum mengacu standar internasional, Bapeten bekerja sama dengan US NRC.

"Agar mendapat izin menggunakan energi nuklir di rumah sakti, ada tiga aspek yang harus dipenuhi, mulai aspek peralatan, sumber daya manusia, dan pemenuhan standar prosedur yang ditetapkan Bapeten," kata Sugeng. 

Sebagai contoh, penggunaan energi nuklir harus ditangani oleh dokter khusus. Tetapi harus dihitung  cermat agar tidak overdosis. Alat-alat perlu  dikalibrasi secara periodik satu tahun sekali. 

Pada umumnya, rumah sakit yang mengajukan izin penggunaan energi nuklir memenuhi standar Bapeten. Hanya ada hal-hal sederhana yang direkomendasikan untuk diperbaiki.

Komisioner US NRC, William D Magwood, mengatakan, hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan energi nuklir untuk merawat pasien adalah dosis perawatan harus diberikan sesuai kebutuhan pasien.  

"Untuk beberapa pasien, dosis yang cukup tinggi bisa efisien, tapi untuk beberapa pasien tidak," katanya. Pasien harus mendapat perawatan tepat sesuai prosedur.

Terkait penggunaan di dunia kedokteran, Magwood menekankan, energi nuklir merupakan kemajuan yang memberi manfaat besar bagi umat manusia.

"Sekarang dokter bisa mendiagnosis dan memberi perawatan menggunakan radiasi untnk pasien kanker yang beberapa dekade lalu tidak bisa dilakukan. Dengan demikian, akan lebih banyak orang di dunia yang bisa selamat. Ini adalah perkembangan yang menggembirakan," kata Magwood. (DOE)  

Postingan populer dari blog ini

1/3 Pasien yang Pulang dari Rumah Sakit Meninggal

Pemerintah Butuh 20.000 Perawat. Pasien Covid Bertambah

Perawat Instrumentalis