ATASI KEKURANGAN TENAGA DOKTER, PERAWAT DAN BIDAN

MERAUKE, KOMPAS - Minimnya tenaga dan fasilitas kesehatan di pedalaman Papua mengakibatkan penanganan masalah kesehatan warga tidak memadai. Karena itu, harus ada kebijakan khusus dari pemerintah pusat untuk mengatasi hal itu.

Kepala Dinas Kesehatan Papua Yosef Rinta menyatakan. Papua membutuhkan 6.600 bidan, ahli gizi, perawat, dan dokter. Saat ini dari 29 kabupaten/kota di Papua, baru ada 21 rumah sakit. Dari 419 distrik, baru ada 365  puskesmas, dan dari 3.565 kampung hanya ada 868 puskesmas pembantu (pustu). Itu pun tidak semua puskesmas ataupun pustu ada petugas karena minimnya jumlah tenaga kesehatan. 

"Karena itu, kami mengharapkan ada kebijakan khusus dari pemerintah pusat untuk Papua, khususnya untuk sumber daya manusia," kata Yosef di Jayapura, Kamis (11/4).

Menurut Yosef, pembangunan fasilitas kesehatan dan pemenuhan tenaga kesehatan belum bisa mengikuti laju pembentukan daerah otonom baru (kabupaten) dan luas wilayah Papua. Untuk memenuhi kebutuhan pegawai pemerintah daerah, tidak sedikit dokter aktif ditarik untuk menduduki jabatan struktural sehingga tidak lagi bertugas di rumah sakit ataupun puskesmas. Dinkes Papua berharap pemerintah kabupaten mengangkat tenaga kesehatan baru. "Pengangkatan pegawai adalah kewenangan bupati/walikota," katanya. 

Secara tepisah, pegiat kemanusiaan di Papua, Pastor John Jonga, menuturkan, minimnya layanan kesehatan di daerah pedalaman menyebabkan warga menjadi korban. Saat sakit, warga tidak mendapat pengobatan sehingga tidak tertolong. "Warga tidak bisa berobat karena tidak ada petugas kesehatan. Kalaupun ada puskesmas, tidak ada dokter, perawat dan bidan," katanya.

Untuk menambah petugas kesehatan di kampung-kampung, kata Yosef, Dinkes Papua mengusulkan merekrut warga kampung. Mereka akan diikutkan program pendidikan diploma satu kesehatan. Setelah lulus, mereka ditugaskan di kampung masing-masing. Usulan ini diapresiasi Kementerian Kesehatan.

Saat ini, untuk pelayanan kesehatan di daerah terpencil, Dinkes Papua melaksanakan program flying health care. Program ini mengirim 1 - 2 bidan dan perawat dengan supervisi dokter untuk bertugas 3 - 6 bulan di satu kampung. Selain memberikan pelayanan kesehatan, petugas kesehatan itu juga melatih warga menjadi kader kesehatan dan mengoptimalan posyandu. (RWN)

Postingan populer dari blog ini

1/3 Pasien yang Pulang dari Rumah Sakit Meninggal

Pemerintah Butuh 20.000 Perawat. Pasien Covid Bertambah

Perawat Instrumentalis