Monday, October 13, 2014

PERAWAT AS TERJANGKIT EBOLA, DUNIA BERJUANG MENGENDALIKAN WABAH

Massa yang mengenakan masker medis berunjuk rasa memprots kesiapan pemeritnah menangani penyebaran ebola di Madrid, Spanyol, Sabtu (11/10) tiga orang lagi masuk rumah sakit dengan dugaan terinfeksi ebola, membuat jumlah pasien yang dipantau menjadi 16 orang sejak perawat Teresa Romero dinyatakan menderita ebola. Tertulanya Romero di rumah sakit membuat dunia internasional siaga penuh.

DALLAS, MINGGU 
Seorang petugas kesehatan di Texas, Amerika Serikat, yang merawat pasien ebola pertamanya yang meningal dunia, didiagnosis positip terjangkit ebola. dia menjadi orang pertama di AS yang terjangkit setelah merawat pria Liberia, Thomas Eric Duncan, yang meninggal Rabu lalu.

Kepastian tersebut disampaikan pejabat Kesehatan Negara Bagian Texas dalam sebuah pernyatan, Minggu (12/10). Jika diagnosis awal itu terkonfirmasi, ini menjadi kasus pertama yang diketahui penularannya terjadi di Benua Amerika.

Pernyataan yang dirilis di situs Departemen Kesehatan Texas menyebutkan, "pengujian untuk mengonfirmasi (kasus ini) akan dilakuka  Pusat Pengendalian dan Pencegahan penyakit di Atlanta."

Para pejabat mengatakan, pekerja kesehatan itu dilaporkan mengalami demam skala rendah pada Jumat malam lalu. Dia lalu diisolasi dan dirujuk untuk pengujian atas kondisi kesehatannya. Hasil tes awal telah diterima pada Sabtu malam. 

Rumah sakit dan pejabat kesehatan di Texas tidak memberi detail tentang identitas perawat kesehatan itu. Juga tak diungkapkan dengan detail tugas yang dilakukannya setiap hari. Namun, dia sebelumnya terlibat dalam perawatan Duncan.

"Kami sudah menduga bahwa kasus kedua akan menjadi kenyataan dan kami telah bersiap untuk menghadapi kemungkinan tersebut," kata David Lakey, komisioner Departeman Layanan Kesehatan Negara Bagian Texas.

Duncan (42) menjadi orang pertama yang didiagnosis terjangkit ebola di AS. Dia meninggal di rumah sakit di Dallas, Rabu 8 Oktober ini. Duncan dibesarkan di sebuah koloni penderita kusta di Liberia, melarikan diri ke AS beberapa tahun lalu. Namun, saat pulang ke Liberia, dia tertular ebola saat menolong perempuan hamil. Dia dinyatakan positif menderita ebola beberapa hari setelah tiba kembali di AS. 

Sementara itu, kondisi perawat Spanyol, Teresa Romero (44), yang sempat kritis dikabarkan mulai membaik, Sabtu malam. anggota keluarganya mengatakan, demamnya sudah menurun dan kondisinya relatif stabil. 

Masih berjuang
Dunia terus berjuang dengan berbagai cara untuk mengantisipasi dan mengatasi penyebaran virus ebola. Otoritas Bandara internasional John F Kennedy (JFK), New York, AS, Sabtu memulai pemerikasan baru secara ketat atas orang-orang yang tiba di bandara tersebut.

Pemeriksaan itu terutama terhadap para pelancong yang baru tiba dari negara-negara yang dilanda wabah virus ebola di Afrika Barat. Kewaspadaan di AS meningkat setelah tewasnya Duncan.

Bandara JFK adalah bandara pertama dari lima bandara utama AS yang memperkenalkan langkah lebih tegas terkait ebola. Langkah itu untuk memberikan perlindungan berlapis atas kemungkinan munculnya kasus baru setelah pasien pertama yang didiagnosis di AS itu meninggal.

Seorang juru bicara Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS mengatakan, Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan telah menginspeksi semua pesawat yang tiba di JFK. Tidak hanya mengecek kondisi di pesawat, setiap penumpang dan awak pun diperiksa saksama.

Empat bandara lainnya, yakni Newark di New Jersey, O'Hara di Chicago, Dulles di Washington DC, dan Hartsfield-Jackson di Atlanta, juga memulai pemeriksaan mulai Senin ini, Permeriksaan ketat itu merupakan langkah awal untuk mencegah masuknya virus ebola ke negeri itu.

Bersama dengan Bandara JFK, kelima bandara itu menerima 94 persen penumpang dari Guinea, Liberia, dan Sierra Leone yang datang ke AS. Tiga negara di Afrika Barat itu menjadi terparah dilanda krisis ebola yang sejak Maret telah menewaskan lebih dari 4.000 orang.

Kanada juga melakukan pemeriksaan di Badara Toronto, Montreal, Vancouver, Halifax, Ottawa, dan Calgary untuk mencegah masuknya virus ebola ke negara itu. "Pemerintah melakukan pemeriksaan dengan mendeteksi suhu badan penumpang pesawat," ujar Menteri Kesehatan Kanada Rona Ambrose.

Petugas karantina terlatih di tempatkan di pintu-pintu bandara. (AFP/AP/REUTERS/CAL)    

Wednesday, August 27, 2014

MENDIDIK PEMULUNG JADI PERAWAT

Salah satu bentuk kepedulian Ibu Kembar ini mendidik anak-anak pemulung. Bahkan, mereka bertekad menjadikan anak didiknya jadi perawat. Sebagian besar dana keluar dari kantong pribadi.

Sebuah klinik kesehatan berdiri tak jauh dari hamparan sampah di Tempat Pembuangan Akhir, Bantar Gebang, Bekasi (Jabar). Di areal ini aromanya sungguh tak sedap. Pusat kesehatan yang diberi nama Klinik Umum, Klinik Ibu dan Anak Kartini ini terbuat dari kontainer. Tapi sarana kesehatan cukup memadai. Ada ruang pemeriksaan gigi, ruang obgyn (obstetri dan gynaecologi), sampai operasi. Klinik yang didirikan Ibu Kembar, Sri Rossyati (53) dan Sri Irianingsih (53) rata-rata per hari dikunjungi 50 - 90 pasien berasal dari keluarga pemulung sampah. Mereka bisa berobat gratis.

Sekitar jam 09.00, kegiatan klinik dimulai. Rossy dan Rian, demikian si kembar ini disapa, membuka pintu klinik yang beroperasi tiap kamis dan Sabtu. Sesaat kemudian, delapan remaja putri yang semuanya anak pemulung datang ke klinik. Lalu, mereka berganti baju perawat, mengenaskan topi suster, dan sepatu putih. Masing-masing berbagi tugas.

Ada yang  memasak, menyapu, membersihkan ruangan. Selanjutnya, mereka pun menempati ruang tugas masing-masing. Ada yang bertugas mengambil obat untuk pasien, ada yang jaga di ruang obgyn dan seterusnya. "Mereka adalah anak didik yang kami bina untuk menjadi pembantu perawat. Lihat, mereka sudah terampil menjalankan tugasnya," ujar Rossy saat ditemui Nova, Kamis (30/10).

LANGSUNG PRAKTIK KERJA
Rossy mengisahkan, bersama Rian, ia sudah membuka pendidikan untuk anak-anak masyarakat bawah, antara lain di kolong jembatan dan di Bantar Gebang. Selain itu, mereka juga membuka sekolah keterampilan di antaranya benghkel dan salon. "Nah, yang paling baru, Agustus lalu kami membuka sekolah pembantu perawat, khusus untuk perempuan pemulung yang masih remaja."

Terpikir di benak Rossy dan Rian untuk mengentaskan mereka ke taraf kehidupan yang lebih baik. "Saya tak ingin mereka seperti orang tuanya jadi pemulung." Awalnya mereka diajari hal-hal yang paling dasar, yaitu soal kebersihan. "Saya bilang, jadi perawat harus bersih. Makanya mereka harus rajin menggosok gigi, mandi, cuci rambut, dan seterusnya," lanjut istri dr. Admiral, SpOG ini.

Ibu kembar ini juga terus memotivasi mereka. "Karena itu hal yang paling dasar," tambah Rossy. Proses berikutnya, anak-anak yang berjumlah 16 orang itu diajarkan cara hidup bersih. "Mereka harus bisa ngepel, nyapu, ngelap kaca, nyuci, sampai nyeterika," lanjut Rossy yang sudah bersentuhan dengan dunia kesehatan sejak muda. "Dulu semasa masih tinggal di Pemalang, saya dan suami buka Rumah Sakit Bersalin. Sekarang masih jalan dan dikelola anak-anak. Di sana saya juga pernah buka sekolah perawat."

Lantas di mana para calon pembantu perawat ini praktik? Semula, Bu Kembar ini sudah membuka klinik kesehatan di Bantar Gebang yang hanya menempati satu ruangan. Dalam mengelola klinik gratis ini, Rossy dibantu dua anaknya, Mira dan Santi yang jadi dokter umum."Tentu saja tempat itu tak cukup untuk praktik kerja," cetus ibu empat anak ini.

Lalu, Rossy dan Rian menghadap Menteri Kesehatan Dr Achmad Sujudi untuk menyampaikan niatnya ini. "Pak Menteri sangat mendukung. Beliau menyarankan agar kami bekerja sama dengan Program Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Indonesia, tentu bersama RSCM. Tak hanya itu, Pak Menteri juga membantu membuat klinik lebih luas lagi yang dibuat dari truk kontainer."

Klinik itu mempunyai beberapa ruang. Antara lain ruang operasi, obat, dokter, dan lainnya. " Kami juga diba ntu dua orang PPDS obgyn, anestesi, dokter gigi, dan umum. Kami juga memberi perhatia khusus pada kesehatan ibu dan anak. Itu sebabnya, perkembangan klinik ini maju pesat," ujar Rossy. Bila ada pasien yang tak bisa ditangani," Kami merujuk ke RS Bekasi."

UPAYA TAK SIA-SIA
Nah, anak-anak calon pembantu perawat ini langsung membantu kelancaran klinik. Ada yang bertugas di ruang obat, membantu dokter, dan seterusnya. Ada delapan anak yang saya bawa ke sini untuk dididik selama tiga bulan. Yang lain masih tahap pendidikan dasar. Di sini, selain praktik, mereka juga mendapat pelajaran dari bidan. Mereka saya beri seragam, pakaian dalam, sepatu putih," kata Rian.

Tiga bulan berikutnya, lanjut Rian, para siswa itu mendapat pendidikan etika dan bahasa Inggris yang disampaikan istri Menteri Kesehatan, Ny Lies Achmad Sujudi. Rian menjelaskan, "Mereka harus paham sopan santun. Nah, tahap berikut, mereka kami titipkan ke Rumah Sakit Raden Saleh. Setelah setahun, kami bantu menyalurkan mereka," ujar istri Laksamana Pertama Feizal ini.

Rossy juga berharap anak didiknya ini bisa menjadi perawat orang tua, bayi sampai membantu tugas dokter. "Saya bersyukur, baru tahap awal saja sudah ada yang berminat pada mereka. Sudah ada tiga orang siswa saya yang sudah pasti dapat kerja. Saya kira selama ini kami menjalankan pendidikan dengan bagus, pasti gampang menyalurkan mereka. Apalagi kami punya banyak teman," ujar anggota IID ini. " Selama ini IID memang membantu kami. Tapi, kami lebih banyak keluar uang dari kantong pribadi," ujar Rian.

Ibu Kembar ini yakin upaya menjadikan para pemulung ini jadi perawat tak sia-sia. Apalagi orangtua  mereka sangat mendukung. "Malah banyak orangtua lain yang mendatangi saya agar anaknya bisa sekolah di sini. Harapan saya, sih, seperti itu, semakin banyak lagi anak yang sekolah. Tapi nantilah kalau kami sudah bisa buka praktik tiap hari. Sekarang aja sebulan kami habis tak kurang dari Rp 10 juta - 12 juta untuk operasional," tandas Rossy. (N) Henry Ismono

ENGGAK SANGKA ANAK PEMULUNG JADI PERAWAT

Menjadi perawat adalah cita-cita Sinah (15). Keinginan ini muncul ketika ia melihat perawat-perawat cantik di layar kaca. " Kayaknya enak menjadi perawat," ujarnya. Namun, sekian lama ia memendam keinginannya. Rasanya, cita-citanya ini tak bakalan kesampaian. Pasalnya, orangtuanya, pasangan Rawan dan Warinah, tak mampu lagi membiayai. " Makanya, setelah lulus SD, saya tak sekolah lagi."

Ibarat pucuk dicinta ulam tiba, Sinah bermain bersama teman-temanya. Lalu ibu kembar mendatanginya. "Mereka menawari, mau enggak saya sekolah perawat. Tentu saja saya senang sekali," lanjut Sinah yang memberitahukan hal ini pada orangtuanya." Saya pun mita izin pada orang tua. Mereka setuju saja. Bahkan, bangga karena anak seorang pemulung bisa sekolah perawat," ujar Sinah.

Sinah tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Apalagi, ia memang tak mau meneruskan pekerjaan orangtuanya sebagai pemulung. "Siapa, sih, yang ingin jadi pemulung? Memang, sehari-harinya saya bantu-bantu orangtua. Terkadang, saya ikut mencari barang-barang di TPA. Tapi, kerja seperti itu jelas enggak enak," papar anak kedua dari tiga bersaudara itu.

Itu sebabnya, kesempatan sekolah menjadi asisten perawat dijalani Sinah dengan penuh ketekunanan. Pendidikan tahap awal ia ikuti dengan baik. Semangat yang sama juga ia perlihatkan ketika praktik di klinik. "Sebulan ini, saya dapat jadwal di ruang obat. Saya sudah bisa, lho, mengambil obat yang diminta dokter. Awalnya, sih masih suka lupa nama obat. Sekarang sudah lancar."

Sinah bertekad akan  menyelesaikan pendidikan sampai tuntas. Apalagi, ia sudah mendengar kabar baik dari Bu Kembar. Ada seorang dokter di kawasan Kemang yang tertarik untuk merekrutnya setelah ia menyelesaikan pendidikan. " Tentu saya senang sekali karena bisa langsung dapat kerja. Rencananya, saya akan menyisihkan penghasilan untuk membantu orangtuanya."

Sinah mengaku sering menceritakan pengalamannya kepada rekan-rekan sebayanya. "Banyak teman yang ingin sekolah perawat seperti saya. katanya, kerja seperti ini enak. Sudah begitu tempatnya juga bersih. Tentu saja, mereka, kan, biasa mencari barang di tempat sampah yang bau."

Rasa senang menjadi siswa pembantu perawat juga dirasakan Ade Warsinah (16). Seperti Sinah, gadis kelahiran Subang ini sudah putus sekolah ketika ditawari si kembar. Semula, Ade tinggal bersama neneknya di kota kelahirannya dan menamatkan SMP di sana." Empat tahun lalu, saya tinggal bersama orangtua. Maunya, sih terus ekolah, tapi orangtua tak mampu," ujar Ade.

Gadis berikulit legam ini pun menerima tawaran Ibu Kembar dengan rasa bahagia. "Saya berusaha mengikuti apa saja yang disampaikan Ibu Kembar. Salah satunya Ibu pernah mengatakan, jadi perawat enggak boleh jijik. Karena tugas saya nantinya, kan, merawat orang sakit," kata Ade yang sebulan ini bertugas di ruang obgyn. Itu sebabnya, Ade mengaku biasa-biasa saja ketika suatu saat ada pasien yang sampai perdarahan. Ia harus mengepel lantai yang penuh bercak darah." Ya enggak apa-apa. Biasa saja, kok."

Seperti Sinah, Ade juga mendapat kabar baik dari Ibu Kembar yang menceritakan, Ibu Lies Sujudi, istri Menteri Kesehatan, berminat ingin menariknya jadi perawat. "Tentu saja saya senang. Enggak nyangka saya yang anak pemulung bisa jadi perawat. Apalagi, nanti bisa langung kerja sama Ibu Menteri," kata anak keempat dari enam bersaudara ini. (N)Henry



 

Tuesday, August 26, 2014

DOKTER ASING WAJIB BERBAHASA INDONESIA

TENAGA kesehatan asing yang bekerja di Indonesia akan diminta untuk bisa berbahasa Indonesia sebagai salah satu persyaratan dalam pelaksanaan Komunitas Ekonomi ASEAN (AEC) pada 2015 mendatang.

"Kita wajibkan mampu berbahasa Indonesia, sama seperti perawat kita di Jepang yang diwajibkan menguasai bahasa lokal. Kita gunakan persyaratan yang sama," kata Kepala Pusat Perencanaan dan Pendayagunaan  SDM Kesehatan Kementerian Kesehatan Tritarayati di Jakrta, kemarin.

Tritarayati mengatakan pemerintah telah melakukan persiapan untuk membendung serbuan tenaga kesehatan dari luar negeri terkait pelaksanaan AEC 2015 dengan menyusun regulasi domestik mengenai kualifikasi para pekerja. 

Selain kemampuan bahasa, tenaga kerja dari luar negeri akan diperiksa kualifikasi, kompetensi, serta di fasilitas kesehatan tipe apa mereka akan ditempatkan.

"Tenaga kesehatan asing bisa saja ditempatkan di daerah, tapi tergantung tipe rumah sakitnya, tipe A atau B. Selain itu tidak boleh."

Pemerintah juga akan memastikan apakah tenaga kerja asing yang dipekerjakan benar-benar merupakan tenaga ahli yang tidak dimiliki di dalam negeri.

Tenaga kesehatan asing yang akan bekerja di Indonesia harus mengantongi surat tanda regsitrasi (STR) yang dikeluarkan oleh Konsil Kedokteran untuk dokter atau STR dari Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia untuk perawat.  

Selain memperketat masuknya tenaga kesehatan asing ke Indonesia, Tritarayati mengatakan Kementerian Kesehatan juga memperketat pengiriman tenaga kesehatan ke luar negeri. Dengan begitu, diharapkan tenaga kerja lokal dapat mengisi kebutuhan tenaga kesehatan dalam negeri terlebih dahulu sebelum mencari pekerjaan di luar negeri.

"Seperti Qatar, mereka berani bayar perawat kita hingga Rp 40 juta - Rp 50 juta per bulan, tapi kita perketat karena kebutuhan dalam negeri juga banyak," ujarnya. (Ant/H-3)

Thursday, August 14, 2014

TEKNISI KARDIOVASKULER LANGKA

JAKARTA (POS KOTA)
Tenaga teknisi kardiovaskuler masih sangat langka di Indonesia. Sejumlah rumah sakit menyiasati dengan melatih perawat ahli untuk menjadi teknisi kardiovaskuler meski cara-cara tersebut dinilai kurang efektif dan efisien.

"Kami kesulitan mendapatkan teknisi kardiovaskuler untuk membantu operasional dan tugas medis dokter spesialis jantung," jelas Direktur Utama Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) Cempaka Putih dr Prastowo Sidi Pramono, SpA di sela penandatanganan kesepakatan kerjasama antara  RSIJ dengan Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Prof dr Hamka (Uhamka) Senin (11/8).

Untuk menutupi kebutuhan teknisi kardiovaskuler tersebut, RSIJ Cempaka Putih sendiri terpaksa menerjunkan perawat terlatih menjadi teknisi kardiovaskuler. Meski kebijakan tersebut tidak efektif mengingat harus memberikan pelatihan tambahan.

MENINGKAT
Diakui Prastowo, jumlah pasien penyakit kardiovaskuler dari tahun ke tahun terus meningkat tajam. Di sisi lain, jumlah doker spesialis jantung masih minim, termasuk teknisi kardiovaskuler yang membantunya.

Meski kebutuhan teknisi kardiovaskuler cukup banyak, hingga kini masih sedikit perguruan tinggi yang berminat membuka program studi (podi) teknisi kardiovaskuler. Alasannya selain sulit menemukan tempat magang bagi mahasiswa, prodi teknisi kardiovaskuler temasuk jenis pendidikan berbiaya mahal.
(inung/bu)

Wednesday, May 14, 2014

NANI SURYANI DARI PERAWAT MENJADI WIRAUSAHA DENGAN SYIAR ARMINAREKAareka (Sebagai Franchisee Jasa Umroh) dan Siapa Perawat lain yang Menyusul?

Sudah lama saya ingin berangkat umroh. Kebetulan ada seorang teman yang menawarkan saya untuk bergabung dengan Arminareka di bulan Desember 2013. Lalu saya mendapat penjelasan adanya  hak usaha dan peluang yang sangat besar untuk mengajak seluruh anggota keluarga melaksanaakan ibadah umroh secara gratis. Saya pun tertarik dan langsung mengambil paket kemitraan 13 seharga Rp 19,5 juta Karena profesi saya saat ini sebagai perawat di sebuah rumah sakit, hal ini saya manfaatkan untuk mengajak teman-teman di tempat kerja supaya segera mendaftarkan diri melaksanakan ibadah umroh. Alhamdulillah, baru 3 bulan bergabung dengan Armina, sudah medapatkan 15 jamaah yang tersebar di wilayah sekitar  Kuningan, Jawa Barat.

Manfaat yang saya rasakan sejak bergabung dengan Armina sangat luar biasa. selain menambah kedekatan saya dengan Tuhan, saya juga merasa lebih tenang dalam menjalani hidup. Lebih banyak saudara dan bertambahnya rezeki. Ke depan, saya ingin mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk bergabung dengan Armina dan menajalankan ibadah umroh. Sundoro.

PERAWAT JOMPO INDONESIA DIMINATI JEPANG

JAKARTA (Pos Kota) - Indonesia diminta mendatangkan lebih banyak lagi tenaga perawat dan careworker (pengasuh orang tua lanjut usia/jompo) ke Jepang, karena perawat dari Indoensia sangat diterima oleh masyarakat Jepang.

Permintaan tersebut disampaikan rombongan tamu Japan International Corporation of Welfare Services (JICWELLS) yang terdiri dari pemilik dan pimpinan panti jompo di Jepang kepada Kepala BNP2TKI Gatot Abdullah Mansysur.

"Kamis (17/4), kami menerima JICWELLS dan Pimpinan Persatuan/perkumpulan Fasilitas Kesejahteraan (Panti Jompo) wilayah Ibaraki Perfecture Hiroshi Furuya meminta agar pengiriman perawat ke Jepang, ditambah jumlahnya karena perawat Indonesia dinilai ramah dan berhati lembut," kata Gatot, Senin (21/4).

Dalam pertemuan tersebut, lanjutnya, Hiroshi memaparkan, di wilayah Ibaraki yang terletk 50 kilometer dari Tokyo, ada 1.100 yayasan atau perusahaan yang mempekerjakan tenaga careworker. "Saya berharap jika satu yayasan mempekerjakan 1 orang saja tenaga asal Indonesia, maka terkumpul 1.100 careworker asal Indonesia," kata Gatot mengutip Hiroshi. 

TERLALU KECIL
Rombongan tersebut menilai jumlah perawat dan careworker yang jumlahnya hanya 1.048 orang di Jepang, masih terlalu kecil. Diperkirakan pada tahun 2015, Jepang membutuhkan 1 juta tenaga perawat dan careworker, diharapkan kebutuhan sebanyak ini mayoritas bisa dipenuhi tenaga perawat dari Indonesia.

Menanggapi keluhan ini, Direktur Pelayanan Penempatan BNP2TKI Haposan Saragih, menjelaskan, minat para TKI perawat ke Jepang setiap tahun meningkat.  

"Namun karena ketatnya pelaksanaan seleksi, membuat mereka yang lulus dan diterima bekerja di Jepang jumlahnya menjadi sedikit. Tapi setiap tahun prosentasenya meningkat," ujar Haposan. (tri/bu)