Wednesday, May 14, 2014

Nani Suryani dari Perawat Menjadi Wirausaha dengan Syiar Arminareka (Sebagai Franchisee Jasa Umroh) dan Siapa Perawat lain yang Menyusul?

Sudah lama saya ingin berangkat umroh. Kebetulan ada seorang teman yang menawarkan saya untuk bergabung dengan Arminareka di bulan Desember 2013. Lalu saya mendapat penjelasan adanya  hak usaha dan peluang yang sangat besar untuk mengajak seluruh anggota keluarga melaksanaakan ibadah umroh secara gratis. Saya pun tertarik dan langsung mengambil paket kemitraan 13 seharga Rp 19,5 juta Karena profesi saya saat ini sebagai perawat di sebuah rumah sakit, hal ini saya manfaatkan untuk mengajak teman-teman di tempat kerja supaya segera mendaftarkan diri melaksanakan ibadah umroh. Alhamdulillah, baru 3 bulan bergabung dengan Armina, sudah medapatkan 15 jamaah yang tersebar di wilayah sekitar  Kuningan, Jawa Barat. Manfaat yang saya rasakan sejak bergabung dengan Armina sangat luar biasa. selain menambah kedekatan saya dengan Tuhan, saya juga merasa lebih tenang dalam menjalani hidup. Lebih banyak saudara dan bertambahnya rezeki. Ke depan, saya ingin mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk bergabung dengan Armina dan menajalankan ibadah umroh. Sundoro.

Perawat Jompo Indonesia Diminati Jepang

JAKARTA (Pos Kota) - Indonesia diminta mendatangkan lebih banyak lagi tenaga perawat dan careworker (pengasuh orang tua lanjut usia/jompo) ke Jepang, karena perawat dari Indoensia sangat diterima oleh masyarakat Jepang.

Permintaan tersebut disampaikan rombongan tamu Japan International Corporation of Welfare Services (JICWELLS) yang terdiri dari pemilik dan pimpinan panti jompo di Jepang kepada Kepala BNP2TKI Gatot Abdullah Mansysur.

"Kamis (17/4), kami menerima JICWELLS dan Pimpinan Persatuan/perkumpulan Fasilitas Kesejahteraan (Panti Jompo) wilayah Ibaraki Perfecture Hiroshi Furuya meminta agar pengiriman perawat ke Jepang, ditambah jumlahnya karena perawat Indonesia dinilai ramah dan berhati lembut," kata Gatot, Senin (21/4).

Dalam pertemuan tersebut, lanjutnya, Hiroshi memaparkan, di wilayah Ibaraki yang terletk 50 kilometer dari Tokyo, ada 1.100 yayasan atau perusahaan yang mempekerjakan tenaga careworker. "Saya berharap jika satu yayasan mempekerjakan 1 orang saja tenaga asal Indonesia, maka terkumpul 1.100 careworker asal Indonesia," kata Gatot mengutip Hiroshi. 

TERLALU KECIL
Rombongan tersebut menilai jumlah perawat dan careworker yang jumlahnya hanya 1.048 orang di Jepang, masih terlalu kecil. Diperkirakan pada tahun 2015, Jepang membutuhkan 1 juta tenaga perawat dan careworker, diharapkan kebutuhan sebanyak ini mayoritas bisa dipenuhi tenaga perawat dari Indonesia.

Menanggapi keluhan ini, Direktur Pelayanan Penempatan BNP2TKI Haposan Saragih, menjelaskan, minat para TKI perawat ke Jepang setiap tahun meningkat.  

"Namun karena ketatnya pelaksanaan seleksi, membuat mereka yang lulus dan diterima bekerja di Jepang jumlahnya menjadi sedikit. Tapi setiap tahun prosentasenya meningkat," ujar Haposan. (tri/bu)

Friday, April 11, 2014

RUU KEPERAWATAN BERI PERLINDUNGAN HUKUM DAN DORONG PROFESIONALITAS PERAWAT

Keperawatan merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi dalam bekerjanya sebuah sistem pelayanan kesehatan. Dengan demikian, tenaga perawat sebagai salah satu komponen utama pemberi layanan kesehatan kepada masyarakat juga memiliki peran penting karena terkait langsung dengan mutu pelayanan kesehatan sesuai dengan kompetensi dan pendidikan yang dimilikinya.

Bagaimana penting dan besarnya kontribusi perawat dalam mengemban tugas pelayanan kesehatan jelas tidak diragukan lagi. Bahkan sejak mas kolonial sampai Indonesia merdeka sejak 17 Agustus 1945 hingga saat ini, perawat telah berperan penting dalam menopang sistem pelayanan kesehatan. Sebab sebagaimana diketahui bahawa  baik di rumah sakit pemerintah maupun swasta, baik di perkotaan maupun di pelosok desa terpencil sekalipun, peranan perawat senantiasa memberi andil yang signifikan dalam menunjang pelayanan kesehatan masyarakat.

Oleh karenanya, harus diakui bahwa  memang sangat diperlukan suatu landasan hukum dalam bentuk undang -undang yang mengatur profesi atau praktek keperawatan. Dengan adanya undang-undang ini, diharapkan dapat mengatur paling tidak dua hal pokok, yaitu: perlindungan hukum atas bekerja atau praktiknya profesi keperawatan dan mendorong profesionalitas perawat.

Sehubungan dengan itu dalam penyusunan Program Legislasi Nasional Prioritas Tahun 2009, DPR dan Pemerintah telah sepakat bahwa RUU yang mengatur mengenai praktik keperawatan merupakan salah satu RUU yang menjadi prioritas tahun 2009-2014. 

Ketua Panja RUU Keperawatan DPR RI Nova Riyanti Yusuf mengungkapkan sejauh ini pembahasan RUU Keperawatan sudah mencapai pada tahap konsolidasi antara DPR RI dengan Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan, Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) dan seluruh komponen ini sudah menyepakati adanya UU Keperawatan.

Adapun hasil konsolidasi menurut Nova menghasilkan kesepakatan untuk mempercepat penyelesaian RUU Keperawatan. Harapannya para perawat punya standar keterampilan dan pengetahuan yang mumpuni untuk kerja di luar negeri.

Pihak DPR kata Nova lebih lanjut, mendukung keinginan pemerintah untuk mempercepat pembahasan dan penyelesaian RUU Keperawatan. Keberadaan undang-undang keperawatan diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan keterampilan tenaga kerja Indonesia.

Politisi Partai Demokrat ini optimistis pembahasan RUU Keperawatan akan selesai di tahun 2014. Saat ini, DPR dan pemerintah tidak memiliki perbedaan pandangan. Nyaris tidak ada lagi pasal yang diperdebatkan. "Pemerintah dan DPR berpandangan sama. Ini akan memudahkan Penyelesaian pembahasan RUU Keperawatan," ungkap Nova.

"Ada satu hal yang menjadi pembahasan kita yang terbaru adalah masalah konsil keperawatan dan hal ini kami berkoordinasi dengan Kementerian PAN karena seperti di negara-negara lain sudah memiliki konsil, sehingga para perawat nanti akan merasa nyaman dalam melakukan pekerjaannya," ungkap Novi.

Bahkan, kata Novi, jika mereka mengalami masalah dengan pasien maka dapat diselesaikan di tingkat konsil ini, tidak harus kepengadilan, seperti yang terjadi pada dokter Ayu beberapa waktu lalu. Jadi mereka cukup ke Konsil Keperawatan Indonesia jika RUU Keperawatan sudah disahkan dan konsil disetujui. Adapun Konsil Keperawatan Indonesia adalah sebuah wadah/badan yang berfungsi melakukan pengaturan, pengesahan serta penetapan kompetensi perawat yang menjalankan praktik keperawatan dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan keperawatan. Badan ini berkedudukan di Ibukota dan dapat mempunyai perwakilan di daerah jika diperlukan.

Nova Riyanti Yusuf menegaskan, RUU Keperawatan yang sedang dibahas di Panja DPR RI sekarang ini berangkat dengan spirit nasionalisme, di mana banyak daerah terpencil yang tidak memiliki tenaga perawat, sehingga kurang mendapat perhatian kesehatan yang memenuhi standar kesehatan.

Karena itu, dengan UU Keperawatan diharapkan terjadi pemerataan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, khususnya di daerah terpencil. 

"Jumlah dokter yang terbatas, banyak akademi perawat yang tidak terstandardisasi, dan banyaknya perawat yang dikriminalisasi akibat salah penanganan medis, itulah yang menjadi spirit perlunya pemerataan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, khususnya di daerah-daerah terpencil," kata Nova Riyanti Yusuf.

Nova lebih jauh mengatakan, dengan UU Keperawatan ini, nantinya tenaga perawat akan mendapat pendidikan khusus, yang diharapkan bisa membantu dokter secara profesional." Nantinya perawat mendapat pelimpahan wewenang dari dokter untuk menjalankan tugas-tugas kedokteran, ketika dokter tidak ada atau dalam waktu darurat," tambah Nova.

Menurut politisi Partai Demokrat ini, Indonesia memerlukan tenaga perawat yang luar biasa, mengingat selama ini banyak tenaga medis terpusat di kota-kota besar, termasuk tenaga dokter sendiri. Untuk itu, RUU Keperawatan ini menjadi prioritas dan harus segera disahkan. Nova pun meminta publik tak perlu khawatir dengan RUU Keperawatan tersebut karen secara akademis memang dibutuhkan mendesak. 
(syarif wibowo/info)
      

Thursday, March 20, 2014

MARDIANA D DANA: PERAWAT, PELESTARI BUDAYA, DAN HUTAN ADAT

Bumi adalah ibu kita. Hutan adalah napas kita. Air adalah darah kita. Tuhan hanya satu kali menciptakan bumi, sedangkan makhluk hidup lahir siang dan malam. Akan makan apa mereka saat bumi dikeruk, hutan dibabat, rakyat melarat, adat lenyap, dan  masa depan gelap.

Itulah keprihatinan Mardiana (54), perempuan Dayak Ma'anyam, bersama sekitar 200 warga lainnya yang kehilangan hutan adat seluas 685 hektar di Desa Sarapat, Kecamatan Dusun Timur, Barito Timur, Kalimantan Tengah, akibat ekspansi perkebunan sawit.

"Dulu orangtua selalu mengajari untuk melestarikan hutan adat demi keberlangsungan hidup anak cucu. Hutan menjadi sumber kehidupan sehari-hari dan sangat disakralkan," kata Mardiana yang berprofesi sebagai perawat sejak 1979. 

Dari hutan adat di Sarapat itulah masyarkat menggantungkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan makanan, minuman, obat-obatan, hingga keperluan kayu untuk bahan membangun rumah. "Dulu  ada sekitar enam mata air yang sangat jernih di hutan itu. bermacam-macam ikan dan hewan buruan juga mudah ditemukan. Kini semuanya sudah tiada lagi," kenang ibu dua anak itu, akhir pekan lalu, di area hutan adat Sarapat yang telah berubah jadi kebun sawit.

Mardiana merasakan bahwa kearifan lokal pun perlahan mulai punah seiring hilangnya hutan itu. Hutan adat sangat dijaga dan dihormati. "Setiap kali hendak menebang pohon untuk membangun rumah, ada upacara adat dan kayu dipilih secara slektif. Orang-orang juga terbiasa mencari hasil hutan hanya untuk memenuhi kebutuhan satu hari," paparnya.

Dia melihat betapa menderitanya masyrakat setempat karena kini sebaian besar bekerja menjadi buruh perkebunan dengan jaminan kesehatan yang minim dan pendapatan yang terbatas. Hatinya tergerak untuk memberikan pelayanan kesehatan secara sukarela bagi mereka yang membutuhkan bantuan. "Saya bahagia jika pasien yang datang menjadi sembuh," ucap Mardiana. Pintu rumahnya siap diketuk kapan saja untuk pelayanan kesehatan.

Dia juga siap dipanggil untuk meberikan perawatan bagi warga di desa-desa. Dia mengombinasikan pengobatan modern, yaitu penyembuhan melalui obat modern, dan pengobatan tradisional yang menggunakan ramuan alami dari olahan dedaunan, akar, dan umbi-umbian hutan.   

Mendampingi masyrakat
Selain memberikan pelayanan kesehatan, sejak hutan adat digantikan perkebunan sawit sekitar 2008, Mardiana juga memberikan pendampingan kepada masyarakat dalam memperjuangkan kembali hutan adat itu. "Dengan hilangnnya hutan adat itu, konflik antaranggota keluarga, antartetangga, antarmasyarakat, terus bemunculan. Saya tidak ingin  konflik itu berubah  menjadi benturan fisik yang menimbulkan pertumpahan darah. Saya hanya memotivasi dan mendampingi agar aspirasi disampaikan secara damai," ucapnya. Dia telah menempuh berbagai upaya perjuangan mengembalikan hutan adat itu.

Mardiana mendampingi masyarakat untuk mengumpulkan data dan fakta di lapangan terkait ketidakadilan yang terjadi. Dia juga memberikan kasus-kasus sengketa kepada pemerintah daerah, provinsi, hingga mengajukan tuntutan kepada DP, Komnas HAM, dan Kementerian Kehutanan.

"Dalam memperjuangkan hutan itu kembali, tidak jarang saya mendapatkan teror dan intimidasi, baik berupa SMS maupun telepon ancaman," kata Mardiana, yang pernah mengikuti pelatihan paralegal yang diselenggarakan Forum Keadilan dan Perdamaian Papua-Kalimantan dan Konferensi Waligereja Indonesia pada 2011.

Selain itu, Mardiana juga bergabung menjadi anggota Dewan Nasional Perempuan Adat pada 2012. Dia pun pernah ditunjuk mewakili Indonesia untuk memberikan pemaparan tentang perjuangan perempuan adat melawan perkebunan kelapa sawit dan pertambangan dalam pertemuan internasional yang digelar Asia Indegenous Peoples Pact (AIPP) di Chiang Mai, Thailand, November 2012.

Lestarikan kearifan lokal
Mardiana melengkapi karya pelayanan kesehatan dan pendampingan masyarakat itu dengan mendirikan sanggar tari serta membuat miniatur perlengkapan tradisional masyarakat Dayak untuk melestarikan kearifan lokal yang terancam punah. "Melalui sanggar tari, generasi muda dapat mengenali kekayanan budaya dan kearifan lokal yang dihidupi para pendahulu," ucap pendiri Sanggar Tari Tamiang Miraputut dan Sanggar Rirung Munge itu.
 
Dalam melestarikan kebudayaan lokal itu, dia menciptakan sejumlah tarian yaitu tari Jaku, Nerau Amirue, Wadian Bawu, Wadian Dadas, Ruang Wundrung, Nandrik, Nampak atau Giring-giring, Wadian Maharun, dan Tampak Ehek. Tari Jaku, misalnya, menggambarkan peperangan nenek moyang dalam merebut suatu daerah dan membangun kampung. Tari lain, umpamanya tari Wadian Mahrun, menggambarkan nenek moyang yang memanggil roh sebagai ucapan syukur atas keberhasilan dan kesuksesan. Tari-tarian itu diajarkan Mardian kepada 93 murid yang berusia 5 tahun hingga 20 tahun. Mereka bisa berlatih setiap hari Minggu sore di teras rumah Mardiana, di kawasan Tamiang Layang, Barito Timur.

Mardian juga membuat miniatur perkakas tradisional Dayak yang menurut rencana akan dijadikan suvenir. Hal itu dilakukan agar generasi muda mengenali jenis-jenis perlengkapan yang digunakan nenek moyang untuk keperluan sehari-hari, baik di ladang sungai, maupun dapur.       

Perlengkapan itu, antar lain, adalah lanyung, yaitu keranjang rotan yang biasa digunakan ibu-ibu untuk membawa ikan, sayur, atau padi. Ada pula miniatur lesung sebagai tempat menumbuk beras. Kisaran untuk mengelupaskan kulit padi. Dahuru untuk menampi beras. Dahuru kalang sebagai tempat memilih beras yang bersih. Kalaya ete untuk menyaring dedak halus dan bersih untuk pakan ternak. Kalya pare untuk menyaring padi dari tangkainya. Ansiding adalah jaring penangkap ikan yang terbuat dari rotan. Panuk panikepan adalah tempat menaruh ikan hasil tangkapan. Pamuawan adalah tempat membawa benih padi, dan panuk papukan untuk tempat mncuci beras.

Mardiana sama sekali tidak memungut biaya untuk melatih tari atau pun mengajarkan membuat suvenir. "Tekad saya hanya ingin agar kekayanan budaya tradisional Dayak tidak punah. Yang penting genersi muda mengenal kesenian itu," kata nenek dari dua cucu itu. 

Wednesday, February 19, 2014

PERJUANGAN SEORANG PERAWAT MENEMBUS BANJIR JAKARTA

Demi menjalankan tugasnya sebagai seorang perawat, ibu tiga anak ini rela menembus kemacetan dan banjir setiap hari. Tak jarang, perempuan bernama lengkap Retno Umiyati (42) ini harus menginap di rumah sakit tempatnya bekerja, lantaran tidak bisa pulang.

Menjadi perawat meurpakan keinginan Retno sejak duduk di bangku SMP.Itu mengapa dirinya langsung memutuskan untuk melanjutan pendidikan ke Sekolah Perawat Kesehatan (SPK), setara SMA. "Awalnya melihat tante saya yang seorang perawat. Sepertinya enak jadi perawat, bisa membantu orang banyak," ucapnya saat ditemui di RS Atma Jaya, Jakarta.

Lulus dari SPK tahun 1994, Retno sempat bekerja di sebuah rumah sakit swasta lain, sampai kemudian ia bekerja di RS Atma Jaya. "Di sini saya belajar banyak dan semakin termotivasi untuk terus menjadi perawat. Menjdi seorang perawat itu lebih karena panggilan hati, bukan sekadar demi mencari uang. Melayani, merawat orang yang sakit, hingga pasien sembuh, rasanya bahagia sekali," bebernya.

Selama 14 tahun menjadi perawat, tentu saja banyak suka dan duka yang ia rasakan. "Kalau dimarahi keluarga pasien, itu sudah biasa. Apalagi sejak tahun 2000 saya pindah ke bagian administrasi pasien. semua saya jalani dengan bahagia, enggak pernah dimasukkan ke dalam hati. Alhamdulillah, setelah saya jelaskan dengan baik, biasanya keluarga pasien bisa mengerti dan masalah bisa diselesaikan dengan baik."  

Tak Bisa Pulang
Namun di musim hujan seperti saat ini, Retno ternyata memiliki tantangan lain dalam melaksanakan tugasnya. "Jalan menuju rumah sakit kerap banjir, bahkan pernah rumah sakit ini juga terendam banjir. Sabtu (18/1) kemarin, kan, beberapa titik di Jakarta terkena banjir. rumah saya di kawasan Kramat Jati memang enggak kebanjiran. Tapi saya enggak bisa menembus daerah Pluit akibat jalanan tergenang banjir."

Ia pun terpaksa harus berjalan kaki demi menembus banjir. "Lumayan juga tinggi airnya, sampai paha. Memang, orang-orang bilang lebih baik kembali pulang, tapi saya enggak bisa. Saya merasa bertanggung jawab untuk bekerja. Yang kasihan teman saya, sampai enggak bisa pulang ke rumah sudah dua hari," paparnya.

Akibatnya, di hari itu butuh empat jam bagi Retno untuk mencapai RS Atma Jaya dengan berjalan kaki. "Untung banyak orang yang menembus banjir, jadi enggak terasa capek dan ada teman. Besoknya, saya yang enggak bisa pulang. Tapi untuk, setiap musim hujan seperti ini saya sudah siap bawa baju ganti. Teman-teman lain juga mengalami nasib sama, jadi saya enggak sendiri. Semua ini harus dilalui demi pengadian dan tanggung jawab," tegasnya.

Sebagai karyawan administrasi, "Saya harus hadir tiap hari, karena UGD buka 24 jam, kan? Jadi surat -surat pasien seperti BPJS diurus melalui saya. Terlebih musim hujan dan banjir ini pasien juga makin bertambah. Ini komitmen saya, bagaimana pun harus bekerja. Pernah saat saya sakit, saya tetap kerja. Akhirnya saya drop dan dirawat."

Apa yang dilakukannya, katanya, lebih kepada panggilan pribadi, bukan karena paksaan atau perintah atasan. Saat banjir besar beberapa tahun lalu, RS Atma Jaya terkena banjir setinggi pinggang, sampai ia harus mengevakuasi pasien. "Alhamdulillah, sekarang enggak kena banjir lagi." (Edwin Yusman F)  

Tuesday, December 24, 2013

PERAWAT DI RUMAH? KENAPA TIDAK?

Bila ada orang tua (lansia) atau orang sakit di rumah, sementara Anda tak punya waktu mendampinginya, apa yang harus dilakukan? Kini Anda bisa menyewa tenaga perawat yang memang dilatih khusus untuk kebutuhan tersebut. Bagaimana cara memilihnya?

Sudah tiga tahun ini, Dr Ida Yusi Dahlan menyewa orang untuk menemaninya menjalani hidup sehari-hari. Meski anak-anaknya tinggal di samping kiri dan kanan rumahnya, kesibukan menyebabkan mereka tak bisa selalu mendampingi sang ibu.

Selepas mondok dari rumah sakit gara-gara terserang stroke, Ida menyewa perawat profesional untuk menjaga dan merawatnya. Langkah ini ditempuhnya atas anjuran rumah sakit. Saat pulang dari rumah sakit, Ida jelas tidak bisa langsung menjalani seluruh aktivitas sendiri. Mandi, jalan, minum obat, dan makan, harus dibantu.

Setelah setahun ia mulai sembuh dari stroke. Ia pun bisa melakukan aktivitas sendiri. Sang perawat tidak lagi dibutuhkannya. Namun, karena aktivitas dan geraknya sudah tidak selincah waktu muda dan tidak sekuat sebelum sakit, ia menyewa orang untuk menjadi temannya. 

Ibu berusia 68 tahun ini menyebutnya sebagai penunggu atau pendamping orang tua (POT). "Saya sebut demikian karena memang dia bukan perawat, melainkan teman yang membantu kegiatan saya sehari-hari," tutur mantan anggota DPR RI Komisi X ini.

POT yang disewanya ini membantu kegiatannya sehari-hari, seperti mengangkat telepon, menemani jalan-jalan dan belanja, membantu naik mobil, dan banyak hal lain. "Mandi dan makan tidak lagi dibantu karena saya bisa sendiri meski ini juga bagian dari tugasnya," katanya.

Sedang Tren
Perawatan dan pengasuhan di rumah (perawat homecare) memang sedang tren di zaman ini, bahkan menjadi kebutuhan. Kecenderungan ini muncul dan dibutuhkan karena meningkatnya jumlah orang lanjut usia di Indonesia. Data Komisi Nasional Lanjut Usia menyebutkan di tahun 2000 jumlah lansia mencapai 14,4 juta (7,18 persen) dan diperkirakan meningkat 9,77 persen di tahun 2010 menjadi 23,9 juta jiwa.

Keengganan para lansia untuk dirawat di rumah sakit karena berbagai alasan menyebabkan asuhan dan perawatan di rumah menjadi penting. Demikian diungkapkan Dr Siti Setiati, Sp.PD, dari subbagian geriatrik Ilmu Penyakit Dalam FKUI - RSCM. Karena itu, sekarang ini mulai banyak penyedia jasa tenaga pengurus orang sakit (perawat) dan pendamping orang tua (perawat lansia).

Mengasuh orang tua memiliki tingkat kesulitan tersendiri, sehingga butuh keahlian. Setidaknya ada dua golongan profesi perawat orang tua yang disediakan. Yang pertama penunggu orang tua (POT) serta pengurus orang sakit (POS). Kedua, perawat homecare. 

Dilihat dari lingkup pekerjaan, POT dan POS memiliki perbedaan yang jelas. POT dan POS, bisa dilakukan oleh mereka yang lulus diploma satu keperawatan atau SMU. Sedangkan perawat homecare harus dilakukan oleh mereka yang telah lulus sekolah khusus keperawatan setidaknya diploma tiga. 

Petugas POT dan POS tidak boleh melakukan  pekerjaan seperti memasang infus atau kateter. "Kalau hanya merawat kateter agar higienis masih boleh,". Lingkup POT dan POS hanya membantu klien menjalankan aktivitasnya sehari-hari mulai dari makan, minum obat, sampai buang air kecil dan besar.

Perbedaan POT dan POS terletak pada subjek yang dilayani, POT subjeknya orang sehat, POS subjeknya orang sakit. Tenaga POT dan POs mesti siap 24 jam bila sewaktu-waktu dimintai bantuan. "Selain menunggui saya 24 jam. POT bagi saya merupakan teman, karena orang tua seperti saya kerap merasa sendiri dan sepi," ungkap Ida.  

Agar bisa melewatkan waktu bersama-sama terus dengan nyaman diperlukan adanya kecocokan antara klien dan pendamping. Sayangnya, kecocokan itu tidak selalu mudah untuk dijalani. Hingga saat ini sudah lima kali Ida berganti perawat atau pendamping.  

Demi Kenyamanan
Lain dengan POT dan POS, perawat homecare dibutuhkan khusus untuk pasien yang sedang sakit, sedang dalam proses penyembuhan usai terserang stroke atau penyakit jantung, sampai pasien dalam fase terminal seperti penderita kanker stadium lanjut. Mereka yang menjalankan tugas ini haruslah perawat profesional yang memiliki izin kerja.

Pasien dengan penyakit fase terminal memiliki angka kesembuhan yang rendah. Perawat homecare dalam hal ini dibutuhkan untuk memberi rasa nyaman bagi pasien dan keluarga nya. 

Penggunaan jasa perawat homecare dapat dimulai dari perawatan di rumah sakit kemudian dilanjutkan di rumah. "Bisa hanya menggunakan jasa satu perawat atau beberapa perawat dalam bentuk tim. Dalam satu tim yang kerjanya berdasar shift, anggota dapat dikombinasi terdiri dari pengurus orang sakit, perawat junior, dan perawat senior.

Perawat juga diharapkan dapat menemani pasien bila menginginkan berobat ke luar negeri atau menjemput pasien yang mau pulang berobat dari luar negeri. Dengan begitu, pengobatan dapat diteruskan di Indonesia setelah serah terima antara rumah sakit di luar negeri dan perawat yang akan meneruskan program perawatan di dalam negeri. @Abdi Susanto    

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN KEPERAWATAN ( PERAWAT) DI INDONESIA

Sejarah dan perkembangan keperawatan (perawat) di Indonesia di mulai pada masa penjajahan Belanda sampai pada masa kemerdekaan.

1. Masa Penjajahan Belanda 
Perkembangan keperawatan (perawat) di Indonesia dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi yaitu pada saat penjajahan kolonial Belanda, Inggris dan Jepang. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, perawat berasal dari penduduk pribumi yang disebut velpeger dengan dibantu Zieken Oppaser sebagai penjaga orang sakit.

Tahun 1799 didirikan rumah sakit Binen Hospital di Jakarta untuk memelihara kesehatan staf dan tentara Belanda. Usaha pemerintah kolonial Belanda pada masa itu adalah membentuk Dinas Kesehatan Tentara dan Dinas kesehatan Rakyat. Daendels  mendirikan rumah sakit di Jakarta, Surabaya dan Semarang, tetapi tidak diikuti perkembangan profesi keperawatan (perawat), karena tujuannya hanya untuk kepentingan tentara Belanda.

2. Masa Penjajahan Inggris (1812 - 1816)
Gubernur Jendral Inggris ketika VOC berkuasa yaitu Raffles sangat memperhatikan kesehatan rakyat. Berangkat dari semboyannya yaitu kesehatan adalah milik manusia, ia melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki derajat kesehatan penduduk pribumi antara lain:
- pencacaran umum
- cara perawatan pasien dengan gangguan jiwa
- kesehatan para tahanan

Setelah pemerintahan kolonial kembali ke tangan Belanda, kesehatan penduduk lebih maju. Pada tahun 1819 didirikan RS Stadverband di Glodok Jakarta dan pada tahun 1919 dipindah ke Salemba yaitu RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). Tahun 1816 -1942 berdiri rumah sakit-rumah sakit hampir bersamaan yaitu RS PGI Cikini Jakarta, RS ST  Carollus Jakarta, RS ST Boromeus di Bandung, RS Elizabeth di Semarang. Bersamaan dengan itu berdiri pula sekolah-sekolah perawat.

3. Zaman Penjajahan Jepang (1942 - 1945)
Pada masa ini perkembangan keperawatan (perawat) mengalami zaman kegelapan. Tugas keperawatan (perawat) dilakukan oleh orang-orang tidak terdidik, pimpinan rumah sakit diambil alih oleh Jepang, akhirnya terjadi kekurangan obat sehingga timbul wabah.

4. Zaman Kemerdekaan 
Tahun 1949 mulai adanya pembangunan di bidang kesehatan yaitu  rumah sakit dan balai pengobatan. Tahun 1952 didirikan Sekolah Guru Perawat dan sekolah perawat setingkat SMP. Pendidikan keperawatan profesional (perawat profesional) mulai didirikan tahun 1962 yaitu Akper milik Departemen Kesehatan di Jakarta untuk menghasilkan perawat profesional pemula. Pendirian Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) (perawat) mulai bermunculan, tahun 1985 didirikan PSIK (Program Studi Ilmu Keperawatan) yang merupakan momentum kebangkitan keperawatan (perawat) di Indonesia. Tahun 1995 PSIK FK UI berubah status menjadi FIK UI. Kemudian muncul PSIK-PSIK baru seperti Undip, UNHAS dan lain-lain.

Dikutip dari Buku "Konsep Dasar Keperawatan" oleh Sukma Nolo Widyawati, S.Kep