Wednesday, December 3, 2014

PERAWAT SPANYOL TERTULAR, EROPA WASPADA

BRUSSELS, SENIN - Uni Eropa, Selasa (7/10), waspada setelah terjadi penularan virus ebola di Spanyol. UE meminta klarifikasi Madrid, bagaiman bisa perawat yang merawat dua pasien ebola tertular virus itu. 

Perawat itu menjadi warga Eropa yang tertular virus ebola di luar Afrika. "Komisi Eropa hari Senin mengirimkan surat kepada Menteri Kesehatan Spanyol untuk mendapatkan klarifikasi bagaimana kasus ini terjadi meski semua upaya telah dilakukan," kata juru bicara Komisi Eropa, Frederic Vincent.

"Jelas ada masalah di suatu tempat," kata Vincent. Hal ini terjadi saat semua negara UE tidak khawatir kasus ini meluas.

Madrid diharapkan memberikan klarifikasi hari ini. Perawat berusia 40 tahun itu dilaporkan tertulasr virus paling mematikan di Afrika itu setelah merawat dua pasien ebola yang akhirnya meninggal di rumah sakit Madrid.

Perawat itu jatuh sakit pada 30 September, tetapi baru memeriksakan diri dengan keluhan demam hari Minggu. Setelah menjalani dua tes, dia dikonfirmsi tertular ebola, virus yang telah menewaskan lebih dari 3.400 orang di Afrika Barat. 

Menteri Kesehatan Spanyol Ana Mato mengatakan, protokol darurat dan penetapan sumber penularan ebola telah dilakukan. Selain mencari pasien mana yang menularkan virus, otoritas kesehatan juga mengawasi 30 orang yang melakukan kontak dengan perawat itu, termasuk suaminya.

Perawat itu adalah anggota tim medis Rumah Sakit La Paz-Carlos III, Madrid, yang merawat dua misionaris Spanyol, Miguel Pajares (75) dan Manuel Garcia Viejo (69), yang akhirnya meninggal akibat ebola. Keduanya dipulangkan dan dirawat di ruang isolasi Madrid setelah tertular ebola. JPajares terinfeksi ebola di Liberia dan meninggal 12 Agustus Viejo tertular di Sierra Leone dan meninggal 25 September.  

Direktur Pelayann Kesehatan Dasar RS La Paz-Carlos III Antonio Alemany mengatakan, perawat itu kini dirawat di ruang isolasi rumah sakit di Alcorcon, Madrid Selatan.

Rumah singgah 
Di Jakarta, Kementerian Kesehatan berencana menyediakan rumah singgah dekat bandara dan pelabuhan bagi orang yang datang dari luar negeri dan terdeteksi terkena virus ebola. Rumah singgah itu dilengkapi ruang isolasi dan peralatan memadai untuk perawatan.

"Deteksi dini dan penapisan dilakukan sebagai langkah awal;. Jika terbukti, orang itu langsung diisolasi di rumah singgah, lalu ke rumah sakit dengan pengamanan," kata Plt Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes, Agus Purwadianto, Selasa.

Petugas kesehatan beraga di 49 pintu masuk Indonesia, terutama menjelang kepulangan jemah haji. dilakukan penapisan sebelum, dan setelah sampai di Tanah Air apabila ada keluhan gangguan kesehatan. (A04/AFP/AP/REUTERS/SAM/CAL) 

LAYANAN PERAWAT BERKUALITAS PERCEPAT PENYEMBUHAN PASIEN

BEKASI (Pos Kota) - Pelayanan yang diberikan perawat harus semakin baik. Dengan pelayanan berkualitas akan mempercepat proses penyembuhan pasien.

"Pasien yang mendapat pelayanan baik pasti akan lebih cepat sembuhnya," kata Wakil Walikota, Ahmad Syaikhu saat menghadiri pertemuan dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) di ruang  pertemuan RSUD Kota Bekasi kemarin.

Pertemuan ini diharapkan bisa menyatukan persepsi dan pandangan dalam rangka pencapaian tujuan organisasi ini ke depan. "Karena perawat merupakan salah satu garda terdepan dalam membangun pelayanan kesehatan yang lebih bermartabat," jelasnya.

Syaikhu menambahkan, penegakan disiplin sangat penting bagi seorang perawat. Ini demi meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat, " Sektor kesehatan salah satu bidang yang masuk dalam item perdagangan bebas. Untuk itu kualitas para medis kita harus ditingkatkan," ujarnya. (saban/us)

Friday, November 28, 2014

187 PERAWAT INDONESIA DIKIRIM KE JEPANG

BADAN Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) pada tahun ini mengirimkan 187 perawat untuk bekerja di Jepang. " Penempatan sebagai perawat  orang lanjut usia di Jepang tahun ini paling banyak dalam lima tahun terakhir," ujar Kabag Umas BNP2TKI Haryanto di Jakarta, kemarin

Pada 2010, kata dia, BNP2TKI menempatkan perawat sebanyak 116 orang , 2011 sebanyak 105 orang, 2012 sejumlah 101 orang, dan pada 2013 meningkat menjadi 156 orang.

Salah satu penyumbang tenaga perawat tersebut, Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Bahana Inspirasi Muda Al Ihsan Center, menurut rencana melepas  12 tenaga perawat yang merupakan peserta angkatan pertama dan kedua untuk bekerja di Jepang, besok di Bandung, Jawa Barat.

Salah satu pendiri LPK itu, Prof Avip Saefullah, mengatakan acara pelepasan bakal dihadiri Kepala BNP2TKI Gatot Abdulah Mansyur. "Mereka yang dikirim ialah lulusan universitas dan akademi yang mendapat pelatihan persiapan keperawatan. Selanjutnya diseleksi lewat program Indonesia Japan Economic Partnership Agreement oleh BNP2TKI dan JICWELS sejak Maret 2014 sampai sekarang." (*/H-2)

Tuesday, November 18, 2014

LUTHFI MELENGGANG BEROBAT DENGAN SANG ISTRI

MATAHARI masih terik pada pukul 14.00 WIB di sekitar Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana, kemarin. Aktivitas di RSCM Kencana begitu ramai, semua petugas sibuk melayani pasien.
Saat Media Indonesia keluar dari lift dan akan berbelok ke kiri, seorang laki-laki berkemeja biru garis-garis putih beserta seorang perempuan muda berjilbab hitam duduk di sofa cokelat muda. Ada dua sofa di pojok kiri dan kanan lantai dua rumah sakit umum pusat nasional itu. Pasangan tersebut duduk di sofa pojok kanan.
Sang laki-laki itu ternyata Luthfi Hasan Ishaaq (LHI), terdakwa kasus suap pengurusan kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian dan tindak pidana pencucian uang. Pada Rabu (27/11), jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu dengan hukuman 10 tahun penjara untuk perkara tindak pidana korupsi dan 8 tahun penjara untuk kejahatan pencucian uang, ditambah dengan sebesar 1,5 miliar.
Meski Luthfi masih berstatus tahanan, tidak tampak petugas KPK yang mendampinginya saat duduk di sofa tersebut. Hanya seorang perempuan muda berjilbab dan bergamis hitam mendampinginya. Luthfi duduk bersandar dengan tangan dibentangkan di bahu kursi. Adapun perempuan muda berhidung mancung dan beralis tebal yang mendampingi Luthfi berbalut riasan lengkap. Mata bulatnya mengenakan lensa kontak berwarna abu-abu. Keduanya tampak asyik berbincang.
Luthfi yang mantan anggota Komisi I DPR itu mengaku tengah berobat. Saat ditanya mengapa  bisa keluar dari tahanan KPK, Luthfi mengaku dirinya dalam pengobatan untuk penyembuhan penyakit. Dia juga mengatakan ada penyidik KPK yang mendampinginya saat berobat ke RSCM Kencana itu. "Saya sedang berobat, ada KPK mendampingi," katanya dengan suara pelan. Dia pun menunjuk ke arah kanan bahwa ada petugas KPK bersamanya, meski Media indonesia tidak melihat ada petugas di tempat yang ditunjuk Luthfi.  
Perempuan muda yang mendampinginya sudah sejak pagi terlihat di RSCM Kencana. Media Indonesia bahkan sempat bertemu saat ia membetulkan lensa kontaknya dan makan di kafe RSCM sebelum terlihat mendampingi Luthfi setelah salat Jumat. Perempuan yang mirip istri ketiga Luthfi, Darin Mumtazah, sempat marah saat akan difoto bersama Luthfi. Saat ditanya apa penyakitnya, Lutfi enggan menyebutnya secara detail. Beberapa perawat RSCM Kencana mengaku sering melihat Luthfi bolak-balik berobat ke poliklinik dokter penyakit dalam.  "Kadang sebulan sekali," uajr seorang perawat yang enggan disebut namanya.
Beberapa saat kemudian Luthfi bolak-balik ke poliklinik rawat jalan membawa berkasnya sendiri. Ketika dimintai konfirmasi, juru bicara KPK Johan Budi mengaku tidak mengetahui bahwa tersangka Luthfi pergi ke rumah sakit. "Waduh, saya belum dapat kabar," ujar Johan di Yogyakarta. Menurut KPK, Lutfhi menderita sakit ambeien (hemorrhoid).  Beberapa waktu lalu, ia menolak untuk dioperasi. Menurut pengacaranya, Zainuddin Paru, penyakit itu cukup lama diderita Luthfi, tetapi dia hanya mengonsumsi obat yang diberikan dokter RSCM. Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto memastikan Luthfi didampingi petugas KPK saat berobat ke RSCM. "Walaupun tidak selalu penyidik yang mendampingi," katanya. (*/AI/Su/X-7)

IDENTIFIKASI OBESITAS

SEBUAH studi baru mengatakan mayoritas orang, termasuk dokter dan perawat, tidak dapat mengidentifkasi obesitas (kegemukan). Peneliti dari University of Liverpool menemukan sebagian besar orang tidak dapat mengidentifkasi secara visual kondisi berat badan individu.

Studi dilakukan dengan menunjukkan foto-foto model lelaki. Responden kemudian diminta memberikan label sehat, kelebihan berat badan, dan obesitas pada foto-foto yang ditunjukkan. 

Hasilnya sebagian besar orang tidak akurat mengidentifikasi ukuran berat badan yang sehat dan tidak. Bahkan sebagian besar memberikan label sehat pada pria yang kelebihan berat badan. 

Para peneliti mengatakan temuan terbaru itu menunjukkan peningkatan dan penilaian pada ukuran badan memengaruhi persepsi orang tentang berat badan yang sehat. Temuan itu dipublikasikan dalam British Journal of General Practice. (Mdconncets/Fox/X-8)

Monday, November 10, 2014

OBAMA PELUK PERAWAT

Presiden Amerika Serikat Barack Obama memeluk perawat Nina Pham yang telah dinyatakan bebas dari virus Ebola, di Gedung Putih, Washington DC, Jumat (24/10). Nina tertular virus Ebola saat merawat warga Liberia Thomas Eric Duncan di rumah sakit di Texas. Thomas merupakan orang pertama yang tewas akibat Ebola di AS.

DIBUTUHKAN, TENAGA PERAWAT BERKUALIFIKASI TINGGI

Dengan jumlah penduduk sekitar 240 juta jiwa, Indonesia membutuhkan banyak tenaga medis, termasuk perawat, untuk membantu menjamin kesehatan masyarakatnya. Kemampuannya juga dituntut setara dengan tenaga medis negara-negara lain.

KOORDINATOR Program Studi Ilmu Keperawatan BSI Okatiranti SKp MBiomed menuturkan, kebutuhan perawat dalam negeri masih banyak. Sebagai perbandingan, Jepang dengan penduduk 130 juta jiwa memiliki 1,3 juta perawat, sedangkan Indonesia dengan penduduk 240 juta jiwa hanya memiliki 624 ribu perawat.

Idealnya, perawat memiliki tiga domain kemampuan, yaitu knowledge (pengetahuan), skill (keterampilan), dan attitude (kewenangan memberikan asuhan keperawatan untuk orang lain) yang baik. Sayangnya, di Indonesia kendala dunia keperawatan adalah kualitas lulusan yang belum tersertifikasi dan sebaran tenaga keperawatan yang belum merata di wilayah Indonesia.

Untuk itu, Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dan Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) berupaya meningkatkan kualitas keperawatan di Indonesia dengan perbaikan kurikulum pendidikan keperawatan dan adanya uji kompetensi bagi perawat untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) dilakukan sebelum perawat diizinkan untuk melakukan praktik.  

"Pendidikan merupakan jalan utama untuk menyiapkan perawat-perawat berkualitas yang mampu bersaing dengan perawat asing, baik di Indonesia maupun saat para perawat bisa bekerja di luar negeri. Ini termasuk perbaikan aspek pengetahuan, peningkatan kemampuan, dan yang paling penting adalah sikap caring yang selalu harus melekat dalam diri perawat. Pendidikan juga harus mempersiapkan kemampuan mahasiswa untuk penguasaan bahasa asing dan adaptasi terhadap lingkungan baru, " jelas Okatiranti.  

Memahami hal tersebut, Fakultas Ilmu Keperawatan (FIKa) Univesitas BSI Bandung menyiapan lulusan dengan sejumlah langkah seperti implementasi kurikulum yang terbaru, penguasaan bahasa asing (bahasa Inggris dan bahasa pilihan bahasa Jepang dan Arab), penguasaan Sistem Informasi Keperawatan, dan program orientasi klinik. FIKa Universitas BSI juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah rumah sakit seperti Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Rumah Sakit Jiwa Pusat Jawa Barat, Rumah Sakit Saringsih, Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung, PTSW Budi Pertiwi, dan Puskesmas wilayah Arcamanik. BSI juga memiliki kerja sama dengan Universitas Tasmania, Australia. (MIL)