Tuesday, November 18, 2014

LUTHFI MELENGGANG BEROBAT DENGAN SANG ISTRI

MATAHARI masih terik pada pukul 14.00 WIB di sekitar Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana, kemarin. Aktivitas di RSCM Kencana begitu ramai, semua petugas sibuk melayani pasien.
Saat Media Indonesia keluar dari lift dan akan berbelok ke kiri, seorang laki-laki berkemeja biru garis-garis putih beserta seorang perempuan muda berjilbab hitam duduk di sofa cokelat muda. Ada dua sofa di pojok kiri dan kanan lantai dua rumah sakit umum pusat nasional itu. Pasangan tersebut duduk di sofa pojok kanan.
Sang laki-laki itu ternyata Luthfi Hasan Ishaaq (LHI), terdakwa kasus suap pengurusan kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian dan tindak pidana pencucian uang. Pada Rabu (27/11), jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu dengan hukuman 10 tahun penjara untuk perkara tindak pidana korupsi dan 8 tahun penjara untuk kejahatan pencucian uang, ditambah dengan sebesar 1,5 miliar.
Meski Luthfi masih berstatus tahanan, tidak tampak petugas KPK yang mendampinginya saat duduk di sofa tersebut. Hanya seorang perempuan muda berjilbab dan bergamis hitam mendampinginya. Luthfi duduk bersandar dengan tangan dibentangkan di bahu kursi. Adapun perempuan muda berhidung mancung dan beralis tebal yang mendampingi Luthfi berbalut riasan lengkap. Mata bulatnya mengenakan lensa kontak berwarna abu-abu. Keduanya tampak asyik berbincang.
Luthfi yang mantan anggota Komisi I DPR itu mengaku tengah berobat. Saat ditanya mengapa  bisa keluar dari tahanan KPK, Luthfi mengaku dirinya dalam pengobatan untuk penyembuhan penyakit. Dia juga mengatakan ada penyidik KPK yang mendampinginya saat berobat ke RSCM Kencana itu. "Saya sedang berobat, ada KPK mendampingi," katanya dengan suara pelan. Dia pun menunjuk ke arah kanan bahwa ada petugas KPK bersamanya, meski Media indonesia tidak melihat ada petugas di tempat yang ditunjuk Luthfi.  
Perempuan muda yang mendampinginya sudah sejak pagi terlihat di RSCM Kencana. Media Indonesia bahkan sempat bertemu saat ia membetulkan lensa kontaknya dan makan di kafe RSCM sebelum terlihat mendampingi Luthfi setelah salat Jumat. Perempuan yang mirip istri ketiga Luthfi, Darin Mumtazah, sempat marah saat akan difoto bersama Luthfi. Saat ditanya apa penyakitnya, Lutfi enggan menyebutnya secara detail. Beberapa perawat RSCM Kencana mengaku sering melihat Luthfi bolak-balik berobat ke poliklinik dokter penyakit dalam.  "Kadang sebulan sekali," uajr seorang perawat yang enggan disebut namanya.
Beberapa saat kemudian Luthfi bolak-balik ke poliklinik rawat jalan membawa berkasnya sendiri. Ketika dimintai konfirmasi, juru bicara KPK Johan Budi mengaku tidak mengetahui bahwa tersangka Luthfi pergi ke rumah sakit. "Waduh, saya belum dapat kabar," ujar Johan di Yogyakarta. Menurut KPK, Lutfhi menderita sakit ambeien (hemorrhoid).  Beberapa waktu lalu, ia menolak untuk dioperasi. Menurut pengacaranya, Zainuddin Paru, penyakit itu cukup lama diderita Luthfi, tetapi dia hanya mengonsumsi obat yang diberikan dokter RSCM. Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto memastikan Luthfi didampingi petugas KPK saat berobat ke RSCM. "Walaupun tidak selalu penyidik yang mendampingi," katanya. (*/AI/Su/X-7)

IDENTIFIKASI OBESITAS

SEBUAH studi baru mengatakan mayoritas orang, termasuk dokter dan perawat, tidak dapat mengidentifkasi obesitas (kegemukan). Peneliti dari University of Liverpool menemukan sebagian besar orang tidak dapat mengidentifkasi secara visual kondisi berat badan individu.

Studi dilakukan dengan menunjukkan foto-foto model lelaki. Responden kemudian diminta memberikan label sehat, kelebihan berat badan, dan obesitas pada foto-foto yang ditunjukkan. 

Hasilnya sebagian besar orang tidak akurat mengidentifikasi ukuran berat badan yang sehat dan tidak. Bahkan sebagian besar memberikan label sehat pada pria yang kelebihan berat badan. 

Para peneliti mengatakan temuan terbaru itu menunjukkan peningkatan dan penilaian pada ukuran badan memengaruhi persepsi orang tentang berat badan yang sehat. Temuan itu dipublikasikan dalam British Journal of General Practice. (Mdconncets/Fox/X-8)

Monday, November 10, 2014

OBAMA PELUK PERAWAT

Presiden Amerika Serikat Barack Obama memeluk perawat Nina Pham yang telah dinyatakan bebas dari virus Ebola, di Gedung Putih, Washington DC, Jumat (24/10). Nina tertular virus Ebola saat merawat warga Liberia Thomas Eric Duncan di rumah sakit di Texas. Thomas merupakan orang pertama yang tewas akibat Ebola di AS.

DIBUTUHKAN, TENAGA PERAWAT BERKUALIFIKASI TINGGI

Dengan jumlah penduduk sekitar 240 juta jiwa, Indonesia membutuhkan banyak tenaga medis, termasuk perawat, untuk membantu menjamin kesehatan masyarakatnya. Kemampuannya juga dituntut setara dengan tenaga medis negara-negara lain.

KOORDINATOR Program Studi Ilmu Keperawatan BSI Okatiranti SKp MBiomed menuturkan, kebutuhan perawat dalam negeri masih banyak. Sebagai perbandingan, Jepang dengan penduduk 130 juta jiwa memiliki 1,3 juta perawat, sedangkan Indonesia dengan penduduk 240 juta jiwa hanya memiliki 624 ribu perawat.

Idealnya, perawat memiliki tiga domain kemampuan, yaitu knowledge (pengetahuan), skill (keterampilan), dan attitude (kewenangan memberikan asuhan keperawatan untuk orang lain) yang baik. Sayangnya, di Indonesia kendala dunia keperawatan adalah kualitas lulusan yang belum tersertifikasi dan sebaran tenaga keperawatan yang belum merata di wilayah Indonesia.

Untuk itu, Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dan Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) berupaya meningkatkan kualitas keperawatan di Indonesia dengan perbaikan kurikulum pendidikan keperawatan dan adanya uji kompetensi bagi perawat untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) dilakukan sebelum perawat diizinkan untuk melakukan praktik.  

"Pendidikan merupakan jalan utama untuk menyiapkan perawat-perawat berkualitas yang mampu bersaing dengan perawat asing, baik di Indonesia maupun saat para perawat bisa bekerja di luar negeri. Ini termasuk perbaikan aspek pengetahuan, peningkatan kemampuan, dan yang paling penting adalah sikap caring yang selalu harus melekat dalam diri perawat. Pendidikan juga harus mempersiapkan kemampuan mahasiswa untuk penguasaan bahasa asing dan adaptasi terhadap lingkungan baru, " jelas Okatiranti.  

Memahami hal tersebut, Fakultas Ilmu Keperawatan (FIKa) Univesitas BSI Bandung menyiapan lulusan dengan sejumlah langkah seperti implementasi kurikulum yang terbaru, penguasaan bahasa asing (bahasa Inggris dan bahasa pilihan bahasa Jepang dan Arab), penguasaan Sistem Informasi Keperawatan, dan program orientasi klinik. FIKa Universitas BSI juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah rumah sakit seperti Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Rumah Sakit Jiwa Pusat Jawa Barat, Rumah Sakit Saringsih, Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung, PTSW Budi Pertiwi, dan Puskesmas wilayah Arcamanik. BSI juga memiliki kerja sama dengan Universitas Tasmania, Australia. (MIL)

Monday, October 13, 2014

PERAWAT AS TERJANGKIT EBOLA, DUNIA BERJUANG MENGENDALIKAN WABAH

Massa yang mengenakan masker medis berunjuk rasa memprots kesiapan pemeritnah menangani penyebaran ebola di Madrid, Spanyol, Sabtu (11/10) tiga orang lagi masuk rumah sakit dengan dugaan terinfeksi ebola, membuat jumlah pasien yang dipantau menjadi 16 orang sejak perawat Teresa Romero dinyatakan menderita ebola. Tertulanya Romero di rumah sakit membuat dunia internasional siaga penuh.

DALLAS, MINGGU 
Seorang petugas kesehatan di Texas, Amerika Serikat, yang merawat pasien ebola pertamanya yang meningal dunia, didiagnosis positip terjangkit ebola. dia menjadi orang pertama di AS yang terjangkit setelah merawat pria Liberia, Thomas Eric Duncan, yang meninggal Rabu lalu.

Kepastian tersebut disampaikan pejabat Kesehatan Negara Bagian Texas dalam sebuah pernyatan, Minggu (12/10). Jika diagnosis awal itu terkonfirmasi, ini menjadi kasus pertama yang diketahui penularannya terjadi di Benua Amerika.

Pernyataan yang dirilis di situs Departemen Kesehatan Texas menyebutkan, "pengujian untuk mengonfirmasi (kasus ini) akan dilakuka  Pusat Pengendalian dan Pencegahan penyakit di Atlanta."

Para pejabat mengatakan, pekerja kesehatan itu dilaporkan mengalami demam skala rendah pada Jumat malam lalu. Dia lalu diisolasi dan dirujuk untuk pengujian atas kondisi kesehatannya. Hasil tes awal telah diterima pada Sabtu malam. 

Rumah sakit dan pejabat kesehatan di Texas tidak memberi detail tentang identitas perawat kesehatan itu. Juga tak diungkapkan dengan detail tugas yang dilakukannya setiap hari. Namun, dia sebelumnya terlibat dalam perawatan Duncan.

"Kami sudah menduga bahwa kasus kedua akan menjadi kenyataan dan kami telah bersiap untuk menghadapi kemungkinan tersebut," kata David Lakey, komisioner Departeman Layanan Kesehatan Negara Bagian Texas.

Duncan (42) menjadi orang pertama yang didiagnosis terjangkit ebola di AS. Dia meninggal di rumah sakit di Dallas, Rabu 8 Oktober ini. Duncan dibesarkan di sebuah koloni penderita kusta di Liberia, melarikan diri ke AS beberapa tahun lalu. Namun, saat pulang ke Liberia, dia tertular ebola saat menolong perempuan hamil. Dia dinyatakan positif menderita ebola beberapa hari setelah tiba kembali di AS. 

Sementara itu, kondisi perawat Spanyol, Teresa Romero (44), yang sempat kritis dikabarkan mulai membaik, Sabtu malam. anggota keluarganya mengatakan, demamnya sudah menurun dan kondisinya relatif stabil. 

Masih berjuang
Dunia terus berjuang dengan berbagai cara untuk mengantisipasi dan mengatasi penyebaran virus ebola. Otoritas Bandara internasional John F Kennedy (JFK), New York, AS, Sabtu memulai pemerikasan baru secara ketat atas orang-orang yang tiba di bandara tersebut.

Pemeriksaan itu terutama terhadap para pelancong yang baru tiba dari negara-negara yang dilanda wabah virus ebola di Afrika Barat. Kewaspadaan di AS meningkat setelah tewasnya Duncan.

Bandara JFK adalah bandara pertama dari lima bandara utama AS yang memperkenalkan langkah lebih tegas terkait ebola. Langkah itu untuk memberikan perlindungan berlapis atas kemungkinan munculnya kasus baru setelah pasien pertama yang didiagnosis di AS itu meninggal.

Seorang juru bicara Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS mengatakan, Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan telah menginspeksi semua pesawat yang tiba di JFK. Tidak hanya mengecek kondisi di pesawat, setiap penumpang dan awak pun diperiksa saksama.

Empat bandara lainnya, yakni Newark di New Jersey, O'Hara di Chicago, Dulles di Washington DC, dan Hartsfield-Jackson di Atlanta, juga memulai pemeriksaan mulai Senin ini, Permeriksaan ketat itu merupakan langkah awal untuk mencegah masuknya virus ebola ke negeri itu.

Bersama dengan Bandara JFK, kelima bandara itu menerima 94 persen penumpang dari Guinea, Liberia, dan Sierra Leone yang datang ke AS. Tiga negara di Afrika Barat itu menjadi terparah dilanda krisis ebola yang sejak Maret telah menewaskan lebih dari 4.000 orang.

Kanada juga melakukan pemeriksaan di Badara Toronto, Montreal, Vancouver, Halifax, Ottawa, dan Calgary untuk mencegah masuknya virus ebola ke negara itu. "Pemerintah melakukan pemeriksaan dengan mendeteksi suhu badan penumpang pesawat," ujar Menteri Kesehatan Kanada Rona Ambrose.

Petugas karantina terlatih di tempatkan di pintu-pintu bandara. (AFP/AP/REUTERS/CAL)    

Wednesday, August 27, 2014

MENDIDIK PEMULUNG JADI PERAWAT

Salah satu bentuk kepedulian Ibu Kembar ini mendidik anak-anak pemulung. Bahkan, mereka bertekad menjadikan anak didiknya jadi perawat. Sebagian besar dana keluar dari kantong pribadi.

Sebuah klinik kesehatan berdiri tak jauh dari hamparan sampah di Tempat Pembuangan Akhir, Bantar Gebang, Bekasi (Jabar). Di areal ini aromanya sungguh tak sedap. Pusat kesehatan yang diberi nama Klinik Umum, Klinik Ibu dan Anak Kartini ini terbuat dari kontainer. Tapi sarana kesehatan cukup memadai. Ada ruang pemeriksaan gigi, ruang obgyn (obstetri dan gynaecologi), sampai operasi. Klinik yang didirikan Ibu Kembar, Sri Rossyati (53) dan Sri Irianingsih (53) rata-rata per hari dikunjungi 50 - 90 pasien berasal dari keluarga pemulung sampah. Mereka bisa berobat gratis.

Sekitar jam 09.00, kegiatan klinik dimulai. Rossy dan Rian, demikian si kembar ini disapa, membuka pintu klinik yang beroperasi tiap kamis dan Sabtu. Sesaat kemudian, delapan remaja putri yang semuanya anak pemulung datang ke klinik. Lalu, mereka berganti baju perawat, mengenaskan topi suster, dan sepatu putih. Masing-masing berbagi tugas.

Ada yang  memasak, menyapu, membersihkan ruangan. Selanjutnya, mereka pun menempati ruang tugas masing-masing. Ada yang bertugas mengambil obat untuk pasien, ada yang jaga di ruang obgyn dan seterusnya. "Mereka adalah anak didik yang kami bina untuk menjadi pembantu perawat. Lihat, mereka sudah terampil menjalankan tugasnya," ujar Rossy saat ditemui Nova, Kamis (30/10).

LANGSUNG PRAKTIK KERJA
Rossy mengisahkan, bersama Rian, ia sudah membuka pendidikan untuk anak-anak masyarakat bawah, antara lain di kolong jembatan dan di Bantar Gebang. Selain itu, mereka juga membuka sekolah keterampilan di antaranya benghkel dan salon. "Nah, yang paling baru, Agustus lalu kami membuka sekolah pembantu perawat, khusus untuk perempuan pemulung yang masih remaja."

Terpikir di benak Rossy dan Rian untuk mengentaskan mereka ke taraf kehidupan yang lebih baik. "Saya tak ingin mereka seperti orang tuanya jadi pemulung." Awalnya mereka diajari hal-hal yang paling dasar, yaitu soal kebersihan. "Saya bilang, jadi perawat harus bersih. Makanya mereka harus rajin menggosok gigi, mandi, cuci rambut, dan seterusnya," lanjut istri dr. Admiral, SpOG ini.

Ibu kembar ini juga terus memotivasi mereka. "Karena itu hal yang paling dasar," tambah Rossy. Proses berikutnya, anak-anak yang berjumlah 16 orang itu diajarkan cara hidup bersih. "Mereka harus bisa ngepel, nyapu, ngelap kaca, nyuci, sampai nyeterika," lanjut Rossy yang sudah bersentuhan dengan dunia kesehatan sejak muda. "Dulu semasa masih tinggal di Pemalang, saya dan suami buka Rumah Sakit Bersalin. Sekarang masih jalan dan dikelola anak-anak. Di sana saya juga pernah buka sekolah perawat."

Lantas di mana para calon pembantu perawat ini praktik? Semula, Bu Kembar ini sudah membuka klinik kesehatan di Bantar Gebang yang hanya menempati satu ruangan. Dalam mengelola klinik gratis ini, Rossy dibantu dua anaknya, Mira dan Santi yang jadi dokter umum."Tentu saja tempat itu tak cukup untuk praktik kerja," cetus ibu empat anak ini.

Lalu, Rossy dan Rian menghadap Menteri Kesehatan Dr Achmad Sujudi untuk menyampaikan niatnya ini. "Pak Menteri sangat mendukung. Beliau menyarankan agar kami bekerja sama dengan Program Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Indonesia, tentu bersama RSCM. Tak hanya itu, Pak Menteri juga membantu membuat klinik lebih luas lagi yang dibuat dari truk kontainer."

Klinik itu mempunyai beberapa ruang. Antara lain ruang operasi, obat, dokter, dan lainnya. " Kami juga diba ntu dua orang PPDS obgyn, anestesi, dokter gigi, dan umum. Kami juga memberi perhatia khusus pada kesehatan ibu dan anak. Itu sebabnya, perkembangan klinik ini maju pesat," ujar Rossy. Bila ada pasien yang tak bisa ditangani," Kami merujuk ke RS Bekasi."

UPAYA TAK SIA-SIA
Nah, anak-anak calon pembantu perawat ini langsung membantu kelancaran klinik. Ada yang bertugas di ruang obat, membantu dokter, dan seterusnya. Ada delapan anak yang saya bawa ke sini untuk dididik selama tiga bulan. Yang lain masih tahap pendidikan dasar. Di sini, selain praktik, mereka juga mendapat pelajaran dari bidan. Mereka saya beri seragam, pakaian dalam, sepatu putih," kata Rian.

Tiga bulan berikutnya, lanjut Rian, para siswa itu mendapat pendidikan etika dan bahasa Inggris yang disampaikan istri Menteri Kesehatan, Ny Lies Achmad Sujudi. Rian menjelaskan, "Mereka harus paham sopan santun. Nah, tahap berikut, mereka kami titipkan ke Rumah Sakit Raden Saleh. Setelah setahun, kami bantu menyalurkan mereka," ujar istri Laksamana Pertama Feizal ini.

Rossy juga berharap anak didiknya ini bisa menjadi perawat orang tua, bayi sampai membantu tugas dokter. "Saya bersyukur, baru tahap awal saja sudah ada yang berminat pada mereka. Sudah ada tiga orang siswa saya yang sudah pasti dapat kerja. Saya kira selama ini kami menjalankan pendidikan dengan bagus, pasti gampang menyalurkan mereka. Apalagi kami punya banyak teman," ujar anggota IID ini. " Selama ini IID memang membantu kami. Tapi, kami lebih banyak keluar uang dari kantong pribadi," ujar Rian.

Ibu Kembar ini yakin upaya menjadikan para pemulung ini jadi perawat tak sia-sia. Apalagi orangtua  mereka sangat mendukung. "Malah banyak orangtua lain yang mendatangi saya agar anaknya bisa sekolah di sini. Harapan saya, sih, seperti itu, semakin banyak lagi anak yang sekolah. Tapi nantilah kalau kami sudah bisa buka praktik tiap hari. Sekarang aja sebulan kami habis tak kurang dari Rp 10 juta - 12 juta untuk operasional," tandas Rossy. (N) Henry Ismono

ENGGAK SANGKA ANAK PEMULUNG JADI PERAWAT

Menjadi perawat adalah cita-cita Sinah (15). Keinginan ini muncul ketika ia melihat perawat-perawat cantik di layar kaca. " Kayaknya enak menjadi perawat," ujarnya. Namun, sekian lama ia memendam keinginannya. Rasanya, cita-citanya ini tak bakalan kesampaian. Pasalnya, orangtuanya, pasangan Rawan dan Warinah, tak mampu lagi membiayai. " Makanya, setelah lulus SD, saya tak sekolah lagi."

Ibarat pucuk dicinta ulam tiba, Sinah bermain bersama teman-temanya. Lalu ibu kembar mendatanginya. "Mereka menawari, mau enggak saya sekolah perawat. Tentu saja saya senang sekali," lanjut Sinah yang memberitahukan hal ini pada orangtuanya." Saya pun mita izin pada orang tua. Mereka setuju saja. Bahkan, bangga karena anak seorang pemulung bisa sekolah perawat," ujar Sinah.

Sinah tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Apalagi, ia memang tak mau meneruskan pekerjaan orangtuanya sebagai pemulung. "Siapa, sih, yang ingin jadi pemulung? Memang, sehari-harinya saya bantu-bantu orangtua. Terkadang, saya ikut mencari barang-barang di TPA. Tapi, kerja seperti itu jelas enggak enak," papar anak kedua dari tiga bersaudara itu.

Itu sebabnya, kesempatan sekolah menjadi asisten perawat dijalani Sinah dengan penuh ketekunanan. Pendidikan tahap awal ia ikuti dengan baik. Semangat yang sama juga ia perlihatkan ketika praktik di klinik. "Sebulan ini, saya dapat jadwal di ruang obat. Saya sudah bisa, lho, mengambil obat yang diminta dokter. Awalnya, sih masih suka lupa nama obat. Sekarang sudah lancar."

Sinah bertekad akan  menyelesaikan pendidikan sampai tuntas. Apalagi, ia sudah mendengar kabar baik dari Bu Kembar. Ada seorang dokter di kawasan Kemang yang tertarik untuk merekrutnya setelah ia menyelesaikan pendidikan. " Tentu saya senang sekali karena bisa langsung dapat kerja. Rencananya, saya akan menyisihkan penghasilan untuk membantu orangtuanya."

Sinah mengaku sering menceritakan pengalamannya kepada rekan-rekan sebayanya. "Banyak teman yang ingin sekolah perawat seperti saya. katanya, kerja seperti ini enak. Sudah begitu tempatnya juga bersih. Tentu saja, mereka, kan, biasa mencari barang di tempat sampah yang bau."

Rasa senang menjadi siswa pembantu perawat juga dirasakan Ade Warsinah (16). Seperti Sinah, gadis kelahiran Subang ini sudah putus sekolah ketika ditawari si kembar. Semula, Ade tinggal bersama neneknya di kota kelahirannya dan menamatkan SMP di sana." Empat tahun lalu, saya tinggal bersama orangtua. Maunya, sih terus ekolah, tapi orangtua tak mampu," ujar Ade.

Gadis berikulit legam ini pun menerima tawaran Ibu Kembar dengan rasa bahagia. "Saya berusaha mengikuti apa saja yang disampaikan Ibu Kembar. Salah satunya Ibu pernah mengatakan, jadi perawat enggak boleh jijik. Karena tugas saya nantinya, kan, merawat orang sakit," kata Ade yang sebulan ini bertugas di ruang obgyn. Itu sebabnya, Ade mengaku biasa-biasa saja ketika suatu saat ada pasien yang sampai perdarahan. Ia harus mengepel lantai yang penuh bercak darah." Ya enggak apa-apa. Biasa saja, kok."

Seperti Sinah, Ade juga mendapat kabar baik dari Ibu Kembar yang menceritakan, Ibu Lies Sujudi, istri Menteri Kesehatan, berminat ingin menariknya jadi perawat. "Tentu saja saya senang. Enggak nyangka saya yang anak pemulung bisa jadi perawat. Apalagi, nanti bisa langung kerja sama Ibu Menteri," kata anak keempat dari enam bersaudara ini. (N)Henry